• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Kupang Metro
Advertisement
  • Beranda
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Advertorial
  • Opini
  • Profil
  • Seputar NTT
  • More
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Nasional
    • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Advertorial
  • Opini
  • Profil
  • Seputar NTT
  • More
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Nasional
    • Internasional
No Result
View All Result
Kupang Metro
No Result
View All Result
Home Opini

ASAL MULA NAMA KAMPUNG BONI DAN DESA BONIPOI DI KOTA KUPANG

Admin by Admin
17 Maret 2025
in Opini
0
ASAL MULA NAMA KAMPUNG BONI DAN DESA BONIPOI DI KOTA KUPANG
0
SHARES
207
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Sonny Pelllokila

Kupangmetro —- Sejak kedatangan orang-orang Atoni dari pedalaman pulau Timor ke Kupang yang dihuni hanya oleh orang-orang Helong, nama-nama tempat atau wilayah, sungai, mata air, dll di Kupang yang sebelumnya menggunakan bahasa Helong mulai berubah menggunakan bahasa Dawan.

Menurut H. Hagerdaal pada 11 September 1658, terdapat sekitar 8.000-9.000 pengungsi atau sekitar 18.000-20.000 pengungsi menurut perkiraan lain, datang dari pedalaman pulau Timor ke Kupang karena tekanan dari Portugis pada era pemerintahan VOC (Perusahaan Dagang Hindia Belanda). Salah satunya adalah komunitas Amabi dari Amnuban (Hagerdaal 2012:124). Dalam memori residen Karthaus. komunitas Amabi ditempatkan oleh raja Kupang di kebon raja Kupang (Keterangan : Saat ini, lokasi tersebut terletakdi Gereja Kathedral Kristus Raja dan sekitarnya di Kelurahan Bonipoi). Selanjutnya komunitas ini membentuk kerajaan Amabi Tambaring di Kupang (Karthaus 1931:97). Di kebon raja Kupang inilah, sebuah sonaf raja Amabi Niki-Niki dibangun didekat sebuah pohon asam atau pohon Tambaring (Tamarindus indica).

Tidak jauh dari kebon raja Kupang terdapat sebuah mata air yang terletak dibawah bukit kebon raja Kupang (Keterangan : Saat ini, lokasi tersebut terletak di belakang Puskesmas Kupang Kota di Kelurahan Bonipoi) merupakan tempat mandi khusus dari istri penguasa atau pimimpin kerajaan Amabi Tambaring yang bernama “Bi Boni”, bahkan sampai pada kematiannya, tidak ada seorangpun dari komunitas Amabi yang berani mandi di mata air tersebut.

 

KEDATANGAN SAUBAKI DARI MOLLO
Berselang puluhan tahun kemudian dari pengungsian orang-orang Atoni ke Kupang pada tahun 1658, terdapat beberapa tamukung dari Mollo (Nai Lasa dan Nai Banani) yang datang ke Kupang sebelum pertempuran Penfui pada tahun 1749 dengan membawa misi dan pesan dari raja Mollo sebagai berikut : (1) membawa dan mengantar Baki Nisnoni yang selama ini berlindung di Mollo dalam pelariannya dari Paineneo-Oenam untuk dibawa ke Kupang agar menghindari kejaran dari Portugis; dan (2) membawa pesan kepada raja Kupang untuk dapat memberikan sebidang tanah untuk ditempati oleh Baki Nisnoni dan penguasa Mollo agar mereka terhindar permasalahan dengan portugis di wilayahnya (Heijmering 1847:37;39).

Pasca pertempuran Penfui pada tahun 1749, raja Kupang membagi-bagikan wilayah di Bakunase dan Oepura kepada Baki Nisnoni dan kedua saudarinya; Kemudian wilayah dibawah bukit kebon raja Kupang dan Naime yang terletak di sebelah Timur sungai Kupang (Keterangan : Saat ini, sungai tersebut di kenal dengan kali kaca atau noelnino) diberikan kepada fetor dan raja Mollo untuk ditempati sebagai tempat tinggal karena raja Kupang bermaksud ingin pindah ke pulau Semau (Heijmering 1847:39).

Raja Mollo yang menempati Naime (Keterangan : Lokasi sonaf Naime saat ini merupakan rumah jabatan wakil Gubernur Provinsi NTT), bernama Saubaki dengan gelar To Oematan. Namun karena lehernya panjang, Saubaki sering dipanggil dengan sebutan To Mananu (Heijmering 1847:37). Sedangkan fetor Mollo dan tamukungnya menempati wilayah dibawah bukit kebon raja Kupang.

 

NAMA MATA AIR BONI DAN KAMPUNG BONI
Mata air yang sebelumnya merupakan tempat mandi dari Bi Boni, kemudian hanya dapat digunakan oleh Saubaki. Oleh karena itu, untuk menghormati komunitas Amabi dan pemimpinnya yang memberi kesempatan hanya kepada Saubaki untuk mandi di mata air tersebut, Saubaki memberi nama mata air itu dengan nama “mata air Boni”.

Sesudah mandi, Saubaki sering menjemur selimutnya di puncak perbukitan (Keterangan : Lokasi perbukitan saat ini, tepatnya di SD GMIT Bonipoi), sekaligus menjadi tempat peristirahatan sementara setelah mandi. Di tempat peristirahatan ini sering dilaksanakan pertemuan dengan raja-raja Timor lainnya, dimana dari hasil pertemuan ini terdapat beberapa keputusan yang bersejarah. Akhirnya tempat peristirahatan itu yang terletak di puncak bukit dalam bahasa Dawan disebut dengan “Boin Beti”yang artinya “Gantungan Selimut” (Toto 1964:24).

Pasca pertempuran Penfui pada tahun 1749, kebon raja Kupang dan wilayah sekitarnya (sampai dibawah bukit kebon raja) telah dihuni oleh banyak pendatang baru dari komunitas Amabi dari Amnuban dan komunitas Oematan dari Mollo. Mata air Boni sangat berperan penting dalam kehidupan orang-orang tinggal kebon raja dan sekitarnya. Akhirnya penduduk setempat memberi nama kampung tersebut dengan nama kampung Boni. Nama Boni diadopsi sebagai nama kampung semata-mata hanya untuk menghormati Bi Boni dan Saubaki yang sering mandi di mata air tersebut. Dengan demikian sampai pada masa pemerintahan akhir VOC di Kupang pada tahun 1799-1800, kebon raja Kupang telah berubah nama menjadi kampung Boni ditandai dengan adanya pemukiman komunitas Amabi dan Oematan.

 

NAMA BONIPOI
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda di Kupang (1819-1949), pertumbuhan penduduk di kampung Boni semakin pesat, bahkan perkampungan Boni sudah semakin meluas ke arah pantai. Banyak pendatang baru diluar komunitas Amabi dan Oematan yang tinggal menetap di kampung Boni, terutama komunitas muslim. Diantaranya adalah dua orang kakak beradik dari pulau Bangka bernama Depati Amir Bahrein dan Depati Hamzah Bahrein (Hamzah Cing) yang datang ke Kupang pada tahun 1860. Mereka diasingkan Belanda ke Kupang karena terlibat dalam perlawanan di Gunung Maras. Di Kupang mereka aktif menyebarkan agama Islam dan berhasil mendirikan sebuah mesjid di kampung Boni di Kupang (Leirissa 1983:40).

Untuk mengurangi resiko kebakaran di ibukota Kupang pada tahun-tahun ke depan, maka setelah bulan Desember 1877, pemerintah Hindia Belanda melalui staatblads pasal 1, No.215 tahun 1872 menetapkan bahwa bangunan-bangunan di kampung Boni dan kampung Cina hanya dengan konstruksi tembok, lantai ubin dan atap seng atau genteng. Kampung Boni adalah tempat orang lewat (passerplaats) sehingga merupakan lokasi yang strategis untuk peluang terjadinya kebakaran (Dutch East Indie 1873:1).

Pada tanggal 19 Mei 1877, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Staatsblad. No. 105 Tahun 1877 tentang Peraturan Milisi Untuk Kupang (Reglement voor de schutterij te Koepang), dimana pada pasal 33, Pembagian korps milisi menjadi kompi-kompi dan penetapan kampung-kampung yang ditugaskan pada masing-masing kompi dalam wilayah ibukota Kupang dilakukan oleh kepala pemerintah daerah (bestuur) dengan berkonsultasi dengan komandan milisi. Kampung Boni merupakan salah satu kampung dari tiga belas kampung yang ditetapkan sebagai kompi milisi dalam wilayah Ibukota Kupang (Dutch East Indie-Staatsblad 1878:7). Pada tahun 1880, pemerintah Hindia Belanda di Kupang mengangkat kepala kampung di kampung-kampung yang berada dalam ibukota Kupang dengan jabatan “Wijkmeester”. Wijkmeester kampung Boni adalah Laij Pieng (Dutch East Indie 1882:186).

Seiring berjalannya waktu dan dipengaruhi oleh kondisi alam dan pertumbuhan penduduk di kampung Boni yang semakin pesat, mata air Boni yang dulunya tidak pernah kering pada saat puncak musim kemarau, akhirnya keringnya juga. Gejala seperti ini terjadi setiap tahun-tahun berikutnya. Pada akhirnya mata air ini, bersifat tidak permanen, dimana pada saat musim hujan, debit mata air ini akan muncul besar sekali, namun ketika pada saat puncak musim kemarau, mata air ini kering atau tidak mengeluarkan air lagi. Oleh karena itu dalam bahasa Dawan, penduduk setempat sering menyebut mata air Boni dengan nama “Bonipoi” yang artinya mata air timbul tenggelam; atau mata air muncul-hilang; atau mata air omong kosong.

Mata air Boni bermuara pada sebuah lubang didekat rumah Deos Tionghoa atau balai tempat pertemuan orang-orang Tionghoa (Lebih tepat di depan kantor PELNI). Di era pemerintahan Hindia Belanda di lubang lokasi muara tersebut, dibuat sebuah pancuran yang indah dan bagus sehingga banyak dikunjungi oleh orang-orang untuk mandi. Pada malam hari, suara gemuruh air di lubang pancuran terdengar jelas sekali sehingga penduduk setempat dalam bahasa Dawan menyebutnya dengan “Boni Poin” yang artinya “suaranya Boni”. Namun demi kepentingan pembangunan jalan, lubang pancuran tersebut ditutup untuk pembangunan jalan. Jalan yang dibangun oleh pemerintahan Hindia Belanda melintasi lubang tersebut dikenal dengan nama “Pantjoeranstraat” atau “Jalan Pancuran” (Toto 1964:24).

 

DESA BONIPOI
Nama Bonipoi pertama kali diabadikan pada sebuah nama tangga yang dibangun pada era pemerintah Hindia Belanda di kampung Fontein dengan nama “Bonipoi Trapweg” atau Tangga Bonipoi (Keterangan : Saat ini dikenal dengan tangga 40 Fontein). Selanjutnya pasca era kemerdekaan, nama Bonipoi diadopsi menjadi sebuah “nama desa” pada tahun 1953, ketika status kota Kupang disamakan menjadi satu kecamatan berdasarkan SK. Mendagri tanggal 22 Oktober 1953 No. PUD 5/16/46. Wilayah desa Bonipoi meliputi kampung Boni dan kampung Cina. Pada tahun 1969, terjadi pemekaran desa Bonipoi, dimana kampung Cina telah berdiri sendiri menjadi desa Lai Lahi Bissi Kopan (LLBK) pada saat Kota Kupang secara resmi berstatus Kecamatan Kota Kupang (Leirissa dkk 1983:52).

 

PENUTUP
Agar nama “Boni” tidak hilang lenyap, pasca nama Bonipoi ditetapkan menjadi nama desa pada tahun 1953, maka semua jalan dari pantai menuju ke bukit Boin Beti diberi nama jalan, Boni I, Boni II dan dan Boni III (Toto 1964:24). Namun kini, semua nama jalan menuju bukit Boin Beti telah berubah menjadi Jl. Kosasih, Jl. Nuri dan Jl. Sunan Kalijaga. Selain itu, ada beberapa tangga yang terletak didesa Bonipoi juga diberi nama tangga Boni.

 

Sumber :
1847, G. Heijmering. Geschiedenis van Het Eiland Timor. Tijdschrift voor Neerlands Indie.
1873, Dutch East Indie. Staatblads Nederlandsch-Indie voor het jaar 1872.
1878, Dutch East Indie. Staatsblad van Nerderlandsch-Indie over het jaar 1877.
1882, Dutch East Indie. Regeerings almanak voor Nederlandsch Indie.
1931, P.F.J. Karthaus. Memorie van den AFtredend Resident van Timor en Onderhoorigheden; Groote Oost, Timor en Onderhoorigheden (Unpblished).
1964, I. Toto . Kupang di waktu malam. Mimbar Indonesia, No.1, Djanuari 1964-Tahun XVIII.
1983, R.Z. Leirissa, Kuntowidjojo dan Soenjata Kartadarmadja. Sejarah Sosial di Daerah Nusa Tenggara Timur.
2012, Hans Hagerdaal. Lords of the Land, Lords of the Sea. Conflict and adaptation in early colonial Timor, 1600-1800.

 

(Dilarang copy paste tulisan ini, tanpa izin atau sepengetahuan penulisnya)

Previous Post

Reses Di Kelurahan Oetete, Anggota DPRD NTT, Celly Ngganggus ‘Disodor’ Keluhan Warga

Next Post

ASAL MULA NAMA FATUFETO

Admin

Admin

Next Post
ASAL MULA NAMA FATUFETO

ASAL MULA NAMA FATUFETO

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected test

  • 42.2k Followers
  • 23.9k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gunakan Dana Pribadi Untuk Perbaikan Jalan Rusak, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kupang Beri Apresiasi Kepada Yafet Horo

Gunakan Dana Pribadi Untuk Perbaikan Jalan Rusak, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kupang Beri Apresiasi Kepada Yafet Horo

10 April 2025
Kepala SMPN 8 Kota Kupang Usir Siswa Peserta Ujian Nasional

Kepala SMPN 8 Kota Kupang Usir Siswa Peserta Ujian Nasional

6 Mei 2025
Ini Jenis-Jenis Pelatihan Yang di Buka BLK NTT Tahun 2021

Ini Jenis-Jenis Pelatihan Yang di Buka BLK NTT Tahun 2021

12 Februari 2021
Erwin Ga Masih Ketua PMI Kota Kupang Yang Sah Periode 2024-2029

Pengurus PMI Provinsi NTT Tegaskan Ketua PMI Kota Kupang Yang Sah Adalah Erwin Gah

22 Mei 2025
Ketua Umum DPP PPP romahurmuziy tengah

Strategi PPP Menangkan Duet Ganjar dan Gus Yasin

0
Ketua umum partai garuda ahmad ridha sabana

Ini Dia Hubungan Partai Garuda dengan Gerindra

0
Gubernur dki jakarta anies baswedan

Rawa Terate Rutin Banjir, Anies Bakal Cek Pabrik Sekitar

0
Ketua nu jatim hasan mutawakkil alallah di masjid-al akbar surabaya

NU Minta Pesantren Tak Terprovokasi Teror Orang Gila

0
Peneliti Unsoed Purwokerto Telusuri Kearifan Lokal Pengobatan Adat Suku Kekoro    

Peneliti Unsoed Purwokerto Telusuri Kearifan Lokal Pengobatan Adat Suku Kekoro   

24 Juli 2026
Upaya Membangun Hidup Sehat Dimulai Dari Keluarga

Upaya Membangun Hidup Sehat Dimulai Dari Keluarga

24 Juli 2026
11 Puskesmas Di Kota Kupang Siap Jadi BLUD

11 Puskesmas Di Kota Kupang Siap Jadi BLUD

24 Juli 2026
Peringati Hari Anak Nasional, K-24 Group dan Sarihusada Perkuat Upaya Cegah Stunting di NTT

Peringati Hari Anak Nasional, K-24 Group dan Sarihusada Perkuat Upaya Cegah Stunting di NTT

23 Juli 2026
Kupang Metro

Dapatkan informasi dan insight pilihan redaksi Kupang Metro - Berita & Informasi Terbaru

Follow Us

Browse by Category

  • Advertorial
  • Budaya
  • Business
  • Daerah
  • Ekbis
  • Food
  • Hukrim
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kota Kupang
  • Lifestyle
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politics
  • Profil
  • Review
  • Sabu Raijua
  • Science
  • Sejarah
  • Seputar NTT
  • Sports
  • Tech
  • Tidak Berkategori

Recent News

Peneliti Unsoed Purwokerto Telusuri Kearifan Lokal Pengobatan Adat Suku Kekoro    

Peneliti Unsoed Purwokerto Telusuri Kearifan Lokal Pengobatan Adat Suku Kekoro   

24 Juli 2026
Upaya Membangun Hidup Sehat Dimulai Dari Keluarga

Upaya Membangun Hidup Sehat Dimulai Dari Keluarga

24 Juli 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 KupangMetro - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Advertorial
  • Opini
  • Profil
  • Seputar NTT
  • More
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Nasional
    • Internasional

© 2025 KupangMetro - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.