Kupang, inihari.co– Siapa yang belum mengenal Viktor Bungtilu Laiskodat? Seluruh jiwa dari usia remaja, pemuda hingga manula di Provinsi Seribu Nusa dengan jumlah 1.192 pulau ini pastinya mengenalnya. Bertatapan langsung mungkin tidak semua pernah, tapi namanya dan bahkan wajahnya sudah tentu tertanam di dalam benak.
Tinggi, gagah, tegap, botak, berwajah tegas, rapi dan berpenampilan sporty, adalah perawakannya sejak dahulu hingga kini dirinya menjabat sebagai Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pasca menang dan terpilih dalam Pilkada tahun 2018 lalu didampingi Josef Nae Soi.
Nama yang berarti Pemenang ini sebelumnya pernah duduk di kursi parlemen DPR RI di 2 periode berbeda (2004-2009 dan 2014-2019) melalui warna partai yang juga berbeda. Di periode ke 2 tersebut, dirinya duduk di senayan mewakili 2.830.430 jiwa masyarakat Dapil 2 NTT yang tersebar di 12 Kabupaten, meliputi Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Belu, Malaka, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Kabupaten Sumba Barat Daya.
Saat ini pria kelahiran Oenesu, 17 Februari 1965 (57 tahun) telah memasuki 4 tahun pelayanannya bagi 5.456.203 jiwa di NTT. Telah banyak yang dicapai demi pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat NTT, serta peningkatan nilai harkat serta pandangan masyarakat luar terhadap Provinsi terSelatan di Nusantara Indonesia ini.
Walau berbagai banyak tantangan dan bahkan protes masyarakat akibat kebijakannya yang baru dan sangat berbeda dari pemimpin-pemimpin sebelumnya sehingga terkadang menimbulkan gejolak karena kurang dipahami baik oleh seluruh isi kepala, namun buah hasil kerjanya kini telah dinikmati secara nyata oleh semua tubuh yang bergerak di bumi Flobamorata.
Dalam berbagai kesempatan, suami dari anggota DPR RI – Julie Sutrisno Laiskodat ini selalu mengajak seluruh masyarakat untuk berjuang bersama melepaskan diri dari berbagai masalah dan ketertinggalan, termasuk bangkit dari permasalahan kemiskinan, pengangguran, ketergantungan, dan ketertinggalan dalam kualitas pendidikan dan kesehatan dasar serta ketertinggalan dalam pengadaan berbagai infrastruktur maupun pemanfaatan teknologi produksi dan informasi.
Dirinya juga tidak lupa merangkul seluruh elemen masyarakat, baik dari segi suku, agama, ras dan golongan untuk terus menggalang toleransi dan menolak paham radikalisme yang dapat memecah belah NKRI.
Bapak satu anak ini juga selalu memotivasi masyarakat NTT dengan menanamkan keyakinan dan kepercayaan diri bahwa mereka adalah pemilik nusa yang kaya akan hasil bumi berkualitas dan memiliki jutaan potensi wisata alam yang tidak dimiliki di tempat lain. Semangatnya untuk menyadarkan masyarakat bahwa keturunan dari 22 Kota/Kabupaten yang ada, adalah keturunan dengan daya pikir yang cemerlang, tidak bodoh, memiliki etos kerja yang tinggi, dan selalu bisa menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, terus dilakukannya.
Di bawah kepemimpinannya yang berjiwa visioner, di bidang pariwisata, NTT saat ini menjadi sorotan dunia sebagai tujuan utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Kota Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat telah diubah menjadi Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) yang menawarkan jamuan istimewa bagi para pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam termasuk yang ingin singgah untuk berkunjung ke tempat yang menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia yang tersisa yakni Komodo.
Pariwisata di NTT di seluruh pulau juga terus dikelola dan dikembangkan secara baik dan profesional, termasuk di Pulau Sumba yang kini dijuluki sebagai pulau dengan alam terindah di dunia atau the most beautiful Island in the world.
Di Kabupaten Alor, keindahan bawah laut terus dipromosi. Pantai Nemberala di Pulau Rote, Danau Kelimutu di Kabupaten Ende – Pulau Flores, Pantai Liman dan Pantai Otan di Semau, semakin berkilau nilai eksotisnya.
Melalui pengembangan wisata, pertumbuhan ekonomi NTT di segala aspek terus meningkat. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) milik masyarakat terus berkembang dan semakin merebak.
Berdasarkan data sejak tahun 2019, pertumbuhan ekonomi NTT secara makro terus meningkat dan bahkan mencapai 6,36 persen, melebihi pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya sebesar 5,04 persen.
Di dunia pendidikan, jumlah pengenyam ilmu pengetahuan di tiap jenjang terus meningkat. Fasilitas sekolah terus diperhatikan, hingga hampir seluruh sekolah di NTT sudah mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Para tenaga pengajar juga mendapat kesejahteraan yang memadai, dan seluruh layanan pendidikan terus ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai hingga ke daerah-daerah terpencil dan terisolir.
Stunting terus menurun. Angka kematian Ibu dan Bayi terus ditekan melalui layanan-layanan kesehatan yang semakin maksimal. Di Kota Kupang, kini telah didirikan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) yang siap melayani dengan fasilitas kesehatan yang lengkap dan modern, ditunjang dengan tenaga medis yang handal. Layanan kesehatan di daerah terpencil juga terus dibenahi demi pemenuhan kesehatan masyarakat.
Dalam pengembangan potensi kelautan dan perikanan, Provinsi NTT di bawah kepemimpinan Viktor Bungtilu Laiskodat juga terus mengalami perubahan positif. Perikanan tangkap terus mengalami peningkatan ratusan ribu ton setelah adanya penambahan sarana dan prasarana di sektor tersebut.
Budidaya rumput laut dan produksi garam di wilayah pantai semakin bertambah, seiring dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir.
Sementara di daratan, lahan-lahan tidur telah diolah menjadi lahan produktif melalui program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS), sehingga bukan hanya di bidang Pertanian yang mengalami kemajuan, namun bidang Peternakan juga terjadi perubahan yang signifikan dengan munculnya ternak-ternak sehat yang berpopulasi banyak dan siap diekspor.
Untuk sarana dan prasarana, melalui terobosan berani dan luar biasa, provinsi NTT melakukan pinjaman ke Pemerintah Pusat melalui PT. Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dengan total pinjaman senilai 1,003 Triliun rupiah yang diperuntukkan pembangunan infrastruktur jalan, embung dan air bersih.
Khusus jalan, sepanjang 906 kilometer jalan provinsi di seluruh wilayah di NTT yang saat ini dalam kondisi rusak, dipastikan tuntas dikerjakan hingga tahun 2023 mendatang.
Untuk mewujudkan kelembagaan yang tepat ukur dan tepat fungsi sejalan dengan sasaran yang ingin dicapai dalam RPJMD 2018-2023, pemerintah Provinsi NTT juga telah melakukan perampingan pada lingkup Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Dari 49 perangkat daerah, kini telah dirampingkan dan dilebur menjadi sehingga 39 Perangkat Daerah yang tersisa.
Perampingan itu membuat pengelolaan keuangan daerah semakin baik sehingga Provinsi NTT tetap mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan NTT.
Jika diuraikan satu persatu seluruh pencapaian yang diraih berkat kepiawaian memimpin Si Pria Helong di Provinsi Kelor yang juga penyedia minuman terbaik “Shopia” ini, maka akan membutuhkan lembaran yang panjang dan juga pastinya kelelahan bagi penulis dalam memaparkannya. Sebab Viktor yang adalah pemenang bukan hanya melakukan perubahan positif di sektor-sektor strategis, namun semua sektor diubahnya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dia bukan menjadi Komandan Perubahan yang hanya memiliki daya dalam skala terbatas, namun adalah seorang Panglima Perubahan yang melingkupi semua aspek tanpa terkecuali. (Yantho Sulabessy Gromang)















