Kupangmetro — Lurah Nefonaek Yosefina Ungirwalu menyebut penanganan masalah sampah menjadi tanggung jawab diri masing-masing dan dimulai dari diri sendiri.
Hal itu dikatakan Lurah Ina Ungirwalu dihadapan warga Kelurahan Airmata dan sebagian warga Kelurahan Mantasi, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang saat memberi materi terkait pengeloaan sampah pada Kamis 4 Desember 2025.

Lurah Nefonaek, Ina Ungirwalu mengatakan, sampah yang dihasilkan setiap rumah tangga mencapai 0.7 Kilogram setiap hari sehingga dalam sebulan mencapai 21 Kilogram sampah yang dihasilkan setiap rumah tangga.
“Itu artinya dalam satu tahun sampah yang dihasilkan setiap rumah tangga kurang lebih 200 kilogram,” jelas Lurah Ina Ungirwalu.
Sampah sesunguhnya tambah Lurah Ina bisa mendatangkan penghasilan atau pendapatan bagi rumah tangga. Untuk itu sampah harus dipilah mulai dari rumah sebelum dibuang ke tempat sampah. “Billa sampah-sampah itu dipilah bisa menghasilkan uang,” lanjut Lurah Ina Ungirwalu
Sementara itu ditempat yang sama, Direktur Bank Sampah Induk Mutiara Timor, Meilsi Anita Mansula menjelaskan, untuk mengolah sampah agar bisa menghasilkan uang warga perlu memilah jenis-jenis sampah sebelum dibuang
Menurut Meilsi Mansula, jenis sampah yang bisa dikirim ke Bank sampah antara lain plastik bekas makanan dan minuman atau kantung plastik, kertas (kardus, rak telur) dan logam (kaleng bekas minuman).
“Untuk memudahkan sistem pengeloaan sampah ditingkat RT, warga perlu membentuk Bank Sampah Unit guna memudahkan warga dalam penyaluran sampah produktif yang akan dijual ke Bank Sampah induk,” jelas Meilsi.
Pada tempat yang sama juga, Ketua Bank Sampah Unit Asmara Loka. Hana Natun, mengajak warga Kelurahan Airmata untuk membentuk Bank Sampah Unit di Kelurahan mulai tingkat RT agar memudahkan dalam pengelolaan.

Sistem pemilahan sampah yang dilakukan warga RT 3 Kelurahan Airmata setelah bergabung dengan Kelurahan Nefonaek sejak Maret 2025 lalu telah membuahkan hasil. Dimana pada 1 Desember 2025 telah dilakukan penimbangan perdana oleh 2 orang nasabah dan menghasilkan 860 Kg sampah plastik bernilai ekonomis.
“Ini merupakan sebuah proses yang tidak mudah agar bisa mendapatkan hasil”, ungkap Lurah Nefonaek.
(Andi Ilham Sulabessy)















