Kupangmetro — Bakal calon Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Sebastian Salang, yang berpasangan dengan Bakal Calon Gubernur Orias Petrus Moedak selama di Maumere Kabupaten Sikka tidak hanya bersilahturahmi dengan keluarga komunitas Manggarai di Maumere, tetapi juga melakukan kunjungan ke Panti Asuhan Santa Maria Nangahure, Maumere, pada Sabtu 18 Mei 2024.
Sebelum menyambangi panti asuhan yang berada di Nangahure, Sebastian Salang menyempatkan diri bertemu dengan Marie Jeanne Colson atau yang dikenal dengan nama ibu Belgia, pendiri Yayasan Nativitas yang menaungi sejumlah panti asuhan, termasuk yang di Nangahure itu.
Yayasan yang didirikan sejak tahun 1975 ini adalah sebuah lembaga sosial kemanusiaan yang melayani anak yatim piatu, dan anak terlantar.
Sekedar untuk diketahui, Marie Jeanne Colson atau Ibu Belgia adalah seorang misionaris awal asal Belgia yang sudah membaktikan hidupnya untuk anak-anak yatim dan disfabel di wilayah Flores dan NTT secara umum selama hampir 50 tahun lamanya. Ia telah hadir di Maumere sejak tahun 1970-an.
Sebelum datang ke Indonesia, Marie Jeanne Colson adalah seorang guru yang selalu tergerak hatinya untuk membantu anak-anak mulai di negara asalnya, Belgia hingga Afrika.
Diusianya yang sudah mencapai 81 tahun ini, ibu Belgia telah mendirikan Enam panti asuhan yang menampung penyandang disabiltas serta anak yatim piatu. Semua anak Panti disekolahkan hingga tamat SMA.
Dalam kurun waktu 47 tahun yayasan ini telah menolong dan menyelamatkan sebanyak 6.274 anak anak yang berasal dari Kabupaten Sikka serta dari berbagai kabupaten lain di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Saat ini Panti Asuhan Santa Maria Stela Maris Nangahure Maumere mengasuh 28 anak-anak, dan diantara ke 28 tersebut terdapat 8 anak dengan kebutuhan khusus.
Panti Asuhan Santa Maria Stela Maris Nangahure memiliki sejumlah pengasuh dibawah bimbingan Kornelia Yasinta Kimang atau yang akrab disapa ibu Kori selaku Ketua Pembina.
Saat bertemu Ibu Belgia, bakal calon Wakil Gubernur NTT, Sebastian Salang mendengar banyak kisah yang menyenangkan, tetapi juga banyak hal yang memprihatinkan.
Dikatatakan, situasi ekonomi global saat ini yang tidak menentu sejak wabah Covid-19 pecah tahun 2020 lali, Yayasan Nativitas mengalami kesulitan secara finansial.
‘Sejak wabah Covid-19 kami kekurangan dana untuk memenuhi kebutuhan pokok anak anak, termassuk biaya pendidikan anak anak,” cerita ibu Kori.
Menurut ibu Kori, Yayasan yang dibinanya saat ini sedang berjuang untuk menghidupkan kembali usaha-usaha produktif seperti ternak babi dan ayam yang gagal akibat virus ASF dan flu burung.
“Usaha-usaha ini sangat penting karena menjadi penopang utama kebutuhan hidup anak anak panti ,” jelas Ibu Kori.
Mendengar perjuangan Pembina Panti, Sebastian Salang menunjukan simpati yang besar atas persoalan yang dihadapi oleh Yayasan yang dipimpin Ibu Belgia itu.
“Saya tidak memberikan harapan atau janji untuk Yayasan ini. Hanya saja saya ingin mengetuk hati seluruh warga NTT dan umat Katolik di Indonesia untuk ikut mengulurkan tangan membantu Yayasan ini,” ujarnya.
“Bagi umat Katolik di mana saja berada, saya menyampaikan bahwa uluran tangan Anda akan membuat anak-anak di Panti Asuhan yang didirikan Ibu Belgia akan tersenyum bahagia,” lanjutnya. (***/andi)















