• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Kupang Metro
Advertisement
  • Beranda
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Advertorial
  • Opini
  • Profil
  • Seputar NTT
  • More
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Nasional
    • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Advertorial
  • Opini
  • Profil
  • Seputar NTT
  • More
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Nasional
    • Internasional
No Result
View All Result
Kupang Metro
No Result
View All Result
Home Daerah

ASAL MULA NAMA DESA LAI LAHI BISSI KOPAN DAN KAMPUNG CINA DI KOTA KUPANG

Admin by Admin
21 Maret 2025
in Daerah, Sejarah
0
ASAL MULA NAMA DESA LAI LAHI BISSI KOPAN DAN KAMPUNG CINA DI KOTA KUPANG
0
SHARES
137
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kupangmetro — Dalam bahasa Dawan, orang Atoni Pah Meto sering menyebut Kopan dengan istilah Nai Kopan. Nai artinya Tuan, sedangkan Kopan adalah nama orang sebagai pemimpin suku Kopa yang pernah menempati Fatu Kopa. Dalam bahasa Helong, suku Helong sering menyebut Kopan dengan istilah Lai Kopan. Lai artinya Tuan, sedangkan Kopan adalah nama orang sebagai pemimpin komunitas suku Kopa yang menempati Tepian Muara Sungai (Tasi Lepar) atau pernah dikenal dengan nama “kampung Cina”; atau saat ini dikenal dengan kelurahan Lai Lahi Bissi Kopan (LLBK), kecamatan Kota Lama, Kota Kupang.

MIGRASI PENDUDUK
Sekitar abad 14 sampai abad 15, terjadi migrasi ribuan orang-orang asing dari pulau Seram secara berturut-turut menetap di Timor Timur (East Timur). Dibawah seorang pimpinan yang bernama “Läli” dan kedua putranya, Pom-Läli dan Patu-Läli, beberapa komunitas berangkat dari Seram (Säla) dan tiba di pantai timur pulau Timor (Timor-Timur atau saat ini dikenal dengan Timor Leste). Masing-masing komunitas dibawah pemimpinnya masing-masing (Bastian 1884:10).

Dari Timor-Timur, kemudian salah satu komunitas dari beberapa komunitas diatas, berpindah lagi ke arah Belu Selatan di Tanam Maubes (Heimering 1847: 16). Maubes adalah bentuk metatesis dari Maubesi. Namun Tanam Maubes yang dimaksud diatas, bukan terletak di Maubesi-Insana, tetapi terletak dekat sebuah teluk di Belu Selatan, dimana dulunya dikenal dengan Teluk Maubes (Nordholt 2013:64). Saat ini, Teluk Maubes disebut dengan Teluk Maubesi, dan kemungkinan besar wilayah Tanam Maubes yang dimaksud pada waktu itu adalah wilayah Hasan Maubesi di desa Fahiluka, kecamatan Malaka Tengah, kabupaten Malaka yang kita kenal saat ini.

Sebagai akibat dari perluasan kerajaan di Belu, terdapat berbagai penindasan kepada beberapa komunitas yang menetap disekitarnya, termasuk di Tanam Maubes. Akhirnya komunitas yang mengalami penindasan ini, meninggalkan tempat mereka yang sudah bertahun-tahun mereka tempati (Tanam Maubes), dan berpindah lagi ke tempat yang lebih jauh, yaitu ke arah barat dekat sebuah batu karang yang “berbentuk kerucut” (kegelvormige) , dimana batu tersebut disebut dengan “Fatu Kopa” atau sangat mirip dengan rumah berbentuk kerucut khas Timor. Oleh karena itu, komunitas yang pernah menempati Tanam Maubes ini, diberi nama suku Kopa, dan sebutan lazim orang Atoni Pah Meto kepada pemimpin suku Kopa dengan nama “Kopan” (Heijmering 1847: 16).

Setelah beberapa lama tinggal di Fatu Kopa, suku kecil ini, kembali diusir oleh orang asing yang menetap di sana. Untuk mencegah perpindahan yang ketiga, mereka berpindah semakin jauh ke arah barat daya. Ke arah ini mereka menemukan suatu tempat yang belum berpenghuni (Heijmering 1847: 16). Ditempat yang belum berpenghuni ini, suku Kopa dengan pimimpinya “Kopan” menempati sebuah tempat dekat tepi “Muara Sungai” atau “Tasi Lepar” (Bastian 1884:11). Sungai yang dimaksud dalam bahasa dawan sering disebut dengan Noelnino (Kali Kaca), dan kemudian oleh komunitasnya, tempat tinggal tersebut dinamakan “Kopan”. Eksistensi suku Kopa di Kopan, jauh sebelum pedagang Portugis memulai kegiatan perdagangan komersial di Timor barat pada tahun 1520 (Durand 2002:174).

Selang beberapa waktu, datanglah komunitas suku Haelo atau Helo (Helong) dari pulau Seram, mereka berlabuh di pantai Timur pulau Timor (pantai Tutuala di Timor-Timur). Komunitas ini dipimpin oleh Lissin Bissi (Lissu Bässu). Kemudian dari pantai timur pulau Timor, beberapa komunitas ini, bermigrasi lagi ke Belu atau Bälu (Bastian 1884:11). Nama sebenarnya suku ini adalah Haelo atau Helo, namun karena dipengaruhi oleh aksen bahasa Melayu, sehingga sering diucap menjadi “Helong”. He=Jual dan Lo=Tidak.

Selama beberapa waktu menetap di Belu, kemudian tiga (3) putra dari Lissin Bissi (Lissu Bässu), bermigrasi dari Belu (Bälu) ke arah barat dari pulau Timor dengan menempuh jalur yang berbeda dari jalur yang ditempuh oleh suku Kopa (Bastian 1884:11). Hal yang sama juga dikatakan oleh I.H. Doko dalam bukunya yang berjudul “Timor, pulau Gunung Fatuleu, Batu Keramat” (terbitan tahun 1982), bahwa komunitas Helong bermigrasi dari Belu ke Kupang (I.H Doko 1982:102).

Pada awal perjalanan dari Belu, mereka meninggalkan saudaranya, Bissi Manas di air karena penyakit kulitnya (Dalam bahasa Tetun, Manas berarti Matahari). Ketika itu, Bissi Manas (Bässi Mnas) mulai memunculkan ekornya dan selanjutnya berubah menjadi buaya (Nawäs). Setelah sembuh dari penyakitnya (sudah berubah kembali seperti semula), Bissi Manas dikenal sebagai “Pangeran Buaya”. Bahkan bukan saja Bissi Manas, tapi ayah dari Bissi Manas (Lissin Bissi) pun berasal dari buaya. Selanjutnya, Bissi Manas menyusul kedua saudaranya ke Kopan (Bastian 1884:10).

LAI LAHI BISSI KOPAN
Ketika Bissi Manas (pangeran buaya dari Belu) tiba di Kopan, Nai Kopan sebagai pemimpin dari penduduk asli Tasi Lepar di Kopan, memberi istrinya untuk dikawini. Perkawinan ini sebagai tanda, bahwa kedua suku telah menyatu dalam satu komunitas, dan Nai Kopan tetap sebagai pemimpin komunitas tersebut. Dari perkawinan ini, lahirlah penyebar kebaikan (Laskodat), yaitu : Sao Bissi (Sao Bässi) dan Nissi Bissi (Nissi Bässi). Mereka tinggal bersama dengan ayahnya (Bissi Manas) di suatu tempat yang mereka namakan Nissibissi. Nissibissi adalah nama tempat yang terletak dibelakang benteng Concordia (Bastian 1884:10;11).

Namun terdapat versi berbeda yang diceritakan I.H. Doko dalam bukunya “Timor, pulau Gunung Fatuleu, Batu Keramat” (terbitan tahun 1982), bahwa Besing Lissing adalah seorang Kepala Suku bersama sekelompok besar pengikutnya datang dari Belu ke Kopan. Mereka menyerahkan diri kepada Nai Kopan. Besing Lissing mengawini putri tunggal dari Nai Kopan bernama Bi Punan (Dalam bahasa dawan berati “Nona”), namun orang Belu sering menyebutnya dengan “Funan”. Dari perkawinan ini, akhirnya melahirkan seorang putra yang kemudian menggantikan Nai Kopan sebagai pemimpin dengan nama Besing Lissing (I.H. Doko 1982 :102).

Dari ikatan perkawinan antara Matahari dan Bulan ini (Dalam bahasa Tetun disebut Manas dan Funan), munculah sebutan penghormatan baru untuk Lai Kopan, yaitu “Lai Lahi Bissi Kopan”. Lai Lahi Bissi Kopan adalah sebutan suku Helong, untuk seorang pemimpin yang bernama Kopan, dimana melalui pengorbanannya, telah menyatukan kedua suku (Kopa dan Helong) melaui perkawinan. (1) Lai artinya Tuan; (2) Lahi artinya Pemimpin atau Raja; (3) Bissi adalah nama nenek moyang suku Helong yang membawa suku tersebut dari pulau Seram; dan (4) Kopan adalah nama pemimpin pertama suku Kopa. Jadi “Lai Lahi Bissi Kopan” artinya “Tuan Raja Bissi Kopan”.

KAMPUNG CINA
Sebuah peraturan pemerintah VOC (Perusahaan Dagang Hindia Belanda), tertanggal 22 Januari 1717, menetapkan bahwa orang Tionghoa yang tiba di Kupang (Timor) tanpa memiliki izin untuk tinggal di sana akan dikembalikan dan bahwa mereka yang mencoba tinggal di sana tanpa menertibkan diri akan diusir (J.A. Lombard & S.C Lombard 1998:395). Menindak lanjuti peraturan tersebut, Gubernur Jenderal memerintahkan 18 orang Tionghoa perantauan (huaqiao) dan keluarga mereka untuk kembali ke Batavia dengan alasan bahwa dari waktu ke waktu mereka ditemukan telah tinggal di Kupang tanpa izin resmi. Tidak lebih dari empat (4) orang China di izinkan tinggal di dekat pelabuhan alam di Kupang bersama beberapa mardijkers kristen maupun non kristen (Hagerdal 2012:265).

Surat tertanggal 22 Januari 1717 dapat dijadikan momentum awal lahirnya kampong Cina (Pecinan) di Kupang melalui penataan kembali pemukiman (resettlement) komunitas Tionghoa secara sah di Kupang sesuai peraturan pemerintah pada waktu itu. Wilyah tempat tinggal mereka yang terletak di dekat pelabuhan alam di Kupang atau di Tepian Muara Sungai (Tasi Lepar) atau dalam bahasa Dawan sungai tersebut sering disebut dengan Noelnino (Kali Kaca) adalah bekas tempat tinggal pemimpin suku Kopa, yaitu Lai Lahi Bissi Kopan.

Sejak era pemerintahan Hindia Belanda (1819-1949), kampung Cina merupakan pusat kota dari ibukota Kupang. Orang-orang Cina di Kupang mempunyai pemimpin komunitasnya sendiri yang dikenal dengan “Kapitein Cina”. Berdasarkan buku “Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indie (tahun publikasi 1815-1871)” dan “Regerings-Almanak voor Nederlandsch Indie (tahun publikasi 1857-1941)” , diketahui sejak era pemerintahan Hindia Belanda terdapat sekitar sepuluh (10) Kapitein Cina, antara lain : Jong Christina, Tio Tjieko, Tiong Kianko (?? – 1847), Tjam Sie (1847-1859), Laij Hokko (1859-1866), Tjoeng Kangsoe (1866-1895), Tan Kian Koen (1895-1913), Lie Soe Njan (1913-1915), Tjoeng Kean Nen (1915-1925) dan Lie San Njan (1925-???). Pada tahun 1880, pemerintah Hindia Belanda di Kupang mengangkat kepala kampung di kampung-kampung yang berada dalam ibukota Kupang dengan jabatan “Wijkmeester”. Wijkmeester kampung Cina adalah Toe Asse (Dutch East Indie 1882:186).

Hingga pemerintah Hindia Belanda angkat kaki dari Timor en Onderhoorigheden pada tahun 1949, kampung Cina (Pecinan) telah berusia sekitar 232 tahun. Namun di era pasca kemerdekaan RI, nama kampung Cina sebagai nama wilayah pemerintahan mulai hilang lenyap sejak tahun 1953 pada saat kampung Cina dan kampung Boni digabungkan menjadi satu wilayah pemerintahan dengan nama desa Bonipoi ketika status kota Kupang disamakan menjadi satu kecamatan berdasarkan SK. Mendagri tanggal 22 Oktober 1953 No. PUD 5/16/46. Untuk mengenang dan menghormati pemimimpin suku Kopa yang pertama menempati Kupang, akhirnya pada tahun 1969. nama Lai Lahi Bissi Kopan diadopsi menjadi nama desa ketika Kota Kupang secara resmi berstatus Kecamatan Kota Kupang (Leirissa dkk 1983:52). Desa Lai Lahi Bissi Kopan (LLBK) hanya terdiri dari kampung Cina.

Sumber:
1847, G. Heijmering. Geschiedenis van Het Eiland Timor. Tijdschrift voorNeerlands Indie.
1882, Dutch East Indie. Regeerings almanak voor Nederlandsch Indie.
1884, Adolf Bastian. Indonesien Oder Die Inseln Des Malayischen Archipel.
1982, I.H. Doko. Timor, pulau Gunung Fatuleu, Batu Keramat.
1983, R.Z. Leirissa, Kuntowidjojo dan Soenjata Kartadarmadja. Sejarah Sosial di Daerah Nusa Tenggara Timur.
1998, J.A. Lombard & S.C. Lombard. Les Chinois de Kupang (Timor), aux alentours de 1800. In: Archipel, volume 56.
2002, Frédéric Durand. Timor Lorosa’e, pays au carrefour de l’Asie et du Pacifique: un atlas géo-historique.
2012, Hans Hagerdaal. Lords of the Land, Lords of the Sea. Conflict and adaptation in early colonial Timor, 1600-1800.
2013, H.G. Schulte Nordholt. ‎The Political System of the Atoni of Timor.

(Dilarang copy paste tulisan ini, tanpa izin atau sepengetahuan penulisnya. Oleh : Sonny Pellokila)

Previous Post

Pertanian Di NTT Masih Mengandalkan Jagung Untuk Ketahanan Pangan

Next Post

Deklarasi Partai Gema Bangsa di NTT, Nubatonis : Bangun Gema Bangsa Sama Dengan Membangun Daerah Dan Negara

Admin

Admin

Next Post
Deklarasi Partai Gema Bangsa di NTT, Nubatonis : Bangun Gema Bangsa Sama Dengan Membangun Daerah Dan Negara

Deklarasi Partai Gema Bangsa di NTT, Nubatonis : Bangun Gema Bangsa Sama Dengan Membangun Daerah Dan Negara

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected test

  • 42.2k Followers
  • 23.9k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gunakan Dana Pribadi Untuk Perbaikan Jalan Rusak, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kupang Beri Apresiasi Kepada Yafet Horo

Gunakan Dana Pribadi Untuk Perbaikan Jalan Rusak, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kupang Beri Apresiasi Kepada Yafet Horo

10 April 2025
Kepala SMPN 8 Kota Kupang Usir Siswa Peserta Ujian Nasional

Kepala SMPN 8 Kota Kupang Usir Siswa Peserta Ujian Nasional

6 Mei 2025
Ini Jenis-Jenis Pelatihan Yang di Buka BLK NTT Tahun 2021

Ini Jenis-Jenis Pelatihan Yang di Buka BLK NTT Tahun 2021

12 Februari 2021
Erwin Ga Masih Ketua PMI Kota Kupang Yang Sah Periode 2024-2029

Pengurus PMI Provinsi NTT Tegaskan Ketua PMI Kota Kupang Yang Sah Adalah Erwin Gah

22 Mei 2025
Ketua Umum DPP PPP romahurmuziy tengah

Strategi PPP Menangkan Duet Ganjar dan Gus Yasin

0
Ketua umum partai garuda ahmad ridha sabana

Ini Dia Hubungan Partai Garuda dengan Gerindra

0
Gubernur dki jakarta anies baswedan

Rawa Terate Rutin Banjir, Anies Bakal Cek Pabrik Sekitar

0
Ketua nu jatim hasan mutawakkil alallah di masjid-al akbar surabaya

NU Minta Pesantren Tak Terprovokasi Teror Orang Gila

0
Rekonstruksi Kasus Pembunuh4n di Sabu Raijua Berjalan Tertib

Rekonstruksi Kasus Pembunuh4n di Sabu Raijua Berjalan Tertib

15 April 2026
Pelatihan Legalitas bagi Penganut Kepercayaan dan Masyarakat Adat di Sabu Raijua

Kegiatan pelatihan para legal bagi penganut kepercayaan dan masyarakat Adat 

14 April 2026
Meriahkan Tradisi, Lembaga Adat Menia Gelar Ritual Hole Bersamaan dengan Pelantikan Mone Ama Rai

Meriahkan Tradisi, Lembaga Adat Menia Gelar Ritual Hole Bersamaan dengan Pelantikan Mone Ama Rai

14 April 2026
Percepat Pembangunan SDM, Bupati Sabu Raijua Tinjau Lokasi Sekolah Rakyat di Raemadia

Percepat Pembangunan SDM, Bupati Sabu Raijua Tinjau Lokasi Sekolah Rakyat di Raemadia

10 April 2026
Kupang Metro

Dapatkan informasi dan insight pilihan redaksi Kupang Metro - Berita & Informasi Terbaru

Follow Us

Browse by Category

  • Advertorial
  • Budaya
  • Business
  • Daerah
  • Ekbis
  • Food
  • Hukrim
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politics
  • Profil
  • Review
  • Sabu Raijua
  • Science
  • Sejarah
  • Seputar NTT
  • Sports
  • Tech
  • Tidak Berkategori

Recent News

Rekonstruksi Kasus Pembunuh4n di Sabu Raijua Berjalan Tertib

Rekonstruksi Kasus Pembunuh4n di Sabu Raijua Berjalan Tertib

15 April 2026
Pelatihan Legalitas bagi Penganut Kepercayaan dan Masyarakat Adat di Sabu Raijua

Kegiatan pelatihan para legal bagi penganut kepercayaan dan masyarakat Adat 

14 April 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 KupangMetro - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Advertorial
  • Opini
  • Profil
  • Seputar NTT
  • More
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Nasional
    • Internasional

© 2025 KupangMetro - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.