Kupangmetro — Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Joas Umbu Wanda menyebut, saat ini Pertanian di Nusa Tenggara Timur masih dikonsentrasikan pada tanaman jagung untuk ketahanan pangan, pakan dan industri, termasuk biomasa.
(Biomassa adalah bahan organik yang berasal dari tumbuhan, seperti tongkol jagung dan limbah organik lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai energi atau bahan baku industri. Biomassa dapat meminimalisasi polusi udara serta mengurangi pencemaran lingkungan, dan dapat meningkatkan pendapatan negara, red)
“Kita di NTT tamaman Jagung Biomasanya cukup besar sehingga kita berharap sentra-sentra produksi yang ada lebih dikonsentrasikan pada tanaman jagung”, ungkap Umbu Wanda, Jumat (21/3/2025) di Kupang.
Menurutnya, saat ini daerah-daerah yang banyak menghasilkan jagung ada di Sumba dan Timor.
Walaupun masih mengandalkan musim hujan untuk menanam Jagung, namun Petani di Timor dan Sumba katanya tetap mengatur waktu tanam sehingga saat panen tidak dilakukan sekaligus tetapi secara bertahap.
“Rata-rata petani jagung selalu memanfaatkan musim hujan. Bersyukur Tahun ini hujan agak baik dengan intensitas yang cukup sehingga jagungnya baik dan produksinya cukup baik”, kata Umbu Wanda.
Belum lama ini kata Umbu Wanda, dirinya selaku Kepala Dinas Pertanian mewakili Gubernur NTT bersama Ormas Grib Jaya (Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu) Provinsi dan Kabupaten telah melakukan panen raya jagung di Desa Kalikambe, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya bersama kelompok tani setempat dilahan seluas Dua hektar dari 30 hektar yang ditanami jagung.
Pada acara panen tersebut hadir pula semua unsur Pertanian se Kabupaten SBD termasuk penyuluh, Kepala Dinas Pertanian SBD yang mewakili Bupati serta pihak Bulog Divre Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.
Pemprov NTT katanya berharap adanya kontribusi dari pihak Bulog dalam hal penyerapan hasil panen petani jagung di SBD karena dari lahan seluas 30 hektar yang ditanami, secara keseluruhan jenis jagung yang ditanam adalah jagung jenis hibrida.
“Jagung hibrida ini produksinya cukup baik yakni bisa sampai 4-5 ton per hektare”, jelasnya.
Biasanya setelah panen, ada pihak yang langsung membeli dengan harga Rp 4000 – Rp 5000 per kilogram. Untuk itu Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pertanian meminta Bulog untuk menyerap hasil panen petani dengan harga Rp 5.500 per kilogram. (andi sulabessy)















