Kupangmetro — Rencana Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Kupang S.K. Lerik untuk dijadikan sebagai Rumah Sakit Pendidikan bagi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Citra Bangsa (UCB) telah disepakati bersama oleh pihak UCB dan Pemerintah Kota Kupang, dalam hal ini pihak RSUD S.K Lerik.
Kesepakatan tersebut telah dituangkan dalam Nota Kesepahaman Bersama atau Memory Of Understandyng (MOU) antara pihak Rumah Sakit S.K Lerik yang ditandatangani oleh Direktur RSUD S.K Lerik drg. Dian Sukmawat Arkiang dengan pihak UCB yang ditandatangani oleh Rektor UCB Prof. Dr. Frans Salesman, SE, M. Kes pada beberapa waktu lalu.
“Kita sudah sepakat dalam MOU, dan kerjasama antara Rektor dengan Rumah Sakit. Jadi ada beberapa kewajiban yang kami akan laksanakan, antara lain menyangkut fasilitas pendidikan bagi praktek koas nanti,” ungkap rektor UCB, Prof. Frans Salesman, Rabu (10/12/2025) di Kampus UCB.
Menurut Prof. Frans Salesman, beberapa fasilitas klinis juga akan menjadi kewajiban pihak UCB untuk dilengkapi ketika nanti para mahasiswa FK UCB sudah berpraktek. Dengan demikian katanya tentu ada konsekuensi pembiayaan dari para mahasiswa untuk biaya pendidikan koas guna membantu manajemen Rumah Sakit.
Selain itu para dokter di RSUD S.K Lerik, oleh UCB akan dijadikan sebagai dosen pembimbing klinik bagi para mahasiswa FK UCB. “Jadi mereka diangkat sebagai dosen di bidang bimbingan klinis. Kami dari dari UCB juga berterima kasih kepada Wali Kota Kupang yang telah membantu kami menyediakan fasilitas rumah sakit sebagai rumah sakit pendidikan kedokteran UCB,” ungkap Prof frans.
Menurut Rektor UCB, program pendidikan bagi mahsiswa FK UCB juga diinisiasi Gubernur NTT, Melki Laka Lena sewaktu masih menjadi anggota DPR RI, khususnya di Komisi IX yang memfasilitasi RSUD S.K Lerik sebagai rumah sakit pendidikan.
Namun diakui Rektor UCB juga bahwa dari hasil asesi visitasi lapangan masih terdapat dokumen yang harus UCB lengkapi yaitu pernyataan dari ketua yayasan dan rektor tentang komitmen untuk melengkapi fasilitas pendidikan pada waktu mahasiswa FK berpraktek di RSUD S.K. Lerik.
“Kita bersyukur bahwa saat ini kita sudah punya tambahan Universitas untuk mendidik anak-anak NTT untuk menjadi dokter melalui UCB selain dri Undana. Ini semua dilakukan untuk mengisi kekurangan tenaga dokter yang masih jauh dari kebutuhan,” ungkap Prof. Frans Salesman.
Rektor Frans Salesman menyebut alasan UCB memilih RSUD S.K Lerik sebagai Rumah Sakit Pendidikan karena pertama, saat ini RSUD W.Z. Yohanes telah menjadi mitra Kedokteran bagi FK Undana. Kedua Rumah Sakit Ben Mboy merupakan rumah sakit Tipe A sehingga dengan sendirinya RS Ben Mboy yang merupakan RS milik Pemerintah Pusat akan menjadi hospital base untuk pendidikan spesialis sehingga RS Ben Mboy tidak menerima mitra dari Fakultas Kedokteran. Untuk itu FK UCB memilih Rumah Sakit Pemerintah Kota Kupang S.K. Lerik sebagai Rumah Sakit Pendidikan bagi Fakultas Kedokteran.
“Memang ada beberapa Rumah Sakit di Kota Kupang, tetapi UCB memilih RSUD S.K Lerik sebagai Rumah Sakit Pendidikan karena RSUD S.K Lerik merupakan Rumah Sakit Pemerintah Kota Kupang yang memiliki fasilitas lengkap sehingga dapat dijadikan sebagai rumah sakit pendidikan,” kata Salesman.
Tahap Persiapan
Walaupun saat ini Fakultas Kedokteran UCB belum memulai aktifitas akademiknya, namun persiapan untuk proses akademik atau perkuliahan telah disiapkan, seperti pendaftaran calon mahasiswa Fakultas Kedokteran yang baru akan dibuka pada Pebruari 2026 mendatang dan proses perkuliahan efektif dimulai 1 September 2026.
“Penerimaan pendaftaran mahasiswa baru Pebruari 2026, dan kuliah efektifnya mulai 1 September 2026. Sedangkan untuk praktek ke Koas setelah 4 tahun berikutnya,” jelas Rektor.
Bagi Fakultas Kedokteran UCB yang baru dibuka, selama 6 tahun pertama FK UCB masih dibawa bimbingan dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Surabaya.
Fakultas Kedokteran UCB ada Dua Program Studi, yakni program studi tahap akademik (Dokter Umum) dan Pendidikan Profesi. Pendidikan profesi ini yang koasnya nanti di RSUD S.K Lerik.
“Mahasiswa FK UCB Empat tahun kemudian baru praktek koas di rumah sakit S.K Lerik,” tambahnya.
Bagi mahasiswa Kedokteran, program studi yang ada berbeda dengan program studi lainnya karena program studi fakultas Kedokteran harus mengikuti standar nasional pendidikan kedokteran.
“Jadi itu yang beda dengan program studi lainnya. Program studi kedokteran ini kan standardize, artinya harus mengikuti standar nasional dan standar-standar yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) sehingga benar-benar terseleksi, baik calon mahasiswanya maupun nanti tempat prakteknya di rumah sakit pendidikan. Jadi agak terstandar dengan pola pendidikannya,” jelas Prof. Frans.
Sementara untuk tenaga pengajar atau dosen, UCB telah mempunyai dosen tetap sebanyak 26 orang dan nantinya juga akan bermitra dengan dosen-dosen dari FK Unair.
“Ke 26 orang dosen tetap ini sudah divalidasi dan telah dinyatakan layak menjadi dosen dengan rincian 10 orang dosen biomed, 4 public health, dan 12 prodi spesialis/pendidikan spesialis,” jelasnya.
Selain itu ada dosen yang dipakai dari Rumah Sakit S.K Lerik dengan mengantongi Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK) yang diangkat perguruan tinggi berdasarkan perjanjian kerja.
Dosen yang diambil dari Rumah Sakit S.K Lerik sebagai dosen pembimbing klinik sebanyak 12 orang karena sesuai dengan jumlah spesialis yang ada di RSUD S.K Lerik serta 12 spesialis Preklinik yang terdapat di Fakultas Kedokteran UCB.
“Kan di RSUD S.K Lerik ada 12 spesialis. Di FK UCB juga ada 12 spesialis prekliniknya. Jadi mereka bermitra untuk mendidik dokter-dokter umum kita nanti,” terang Prof. Frans.
UCB Menjawab Kebutuhan Dokter Di NTT
Sementara itu Dokter Delly Pasande selaku Konsultan Kesehatan Yayasan Citra Bina Mandiri yang mengelolah UCB mengatakan, rencana pembukaan Fakultas Kedokteran untuk menjawab kebutuhan dokter di Provinsi NTT yang saat ini masih kekurangan dokter.
Untuk itu mekanisme pendirian Fakultas Kedokteran pada UCB dan rencana kerjasama dengan RSUD S.K Lerik sebagai Rumah Sakit Pendidikan sudah dilakukan dengan penandatanganan MOU disertai komitmen antara pihak UCB dengan Pemerintah Kota Kupang.
Selanjutnya dalam perjalanan nanti tim asosiasi rumah sakit akan turun ke rumah sakit S.K Lerik untuk melihat kesiapan menjadi rumah sakit pendidikan. Setelah itu baru direkomendasikan ke Kementerian Kesehatan untuk mendapat penetapan sebagai rumah sakit pendidikan utama atau rumah sakit pendidikan.
“Yang pasti bahwa untuk menjadi Rumah Sakit Pendidikan pihak Rumah Sakit S.K Lerik telah menyiapkan segala hal yang menjadi kebutuhan mahasiswa Kedokteran UCB,seperti tempat koas, tempat praktek, tempat pertemuan dan lain sebagainya termasuk Peraturan Daerah,” jelas dr. Delly.
Dengan dibukanya Fakultas Kedokteran di UCB diharapkan kedepan dapat menghasilkan dokter-dokter yang merupakan putra-putri NTT selain dari Fakultas kedokteran Undana karena selama ini dokter yang ada di NTT pada umumnya berasal dari luar NTT.
Dokter Delly juga membandingkan jumlah dokter dengan penduduk Provinsi NTT yang saat ini sekitar 5.800.000 jiwa yang belum sebanding dengan jumlah dokter yang hanya sekitar 1500 orang dokter.
Idealnya dengan jumlah penduduk NTT sebanyak itu berarti harus memiliki 5.800 orang dokter dengan perbandingan Satu dokter harus melayani 1000 orang/pasien.
(Andi Ilham Sulabessy)
















