Rote Ndao – Kupangmetro.com – 11 Maret 2026 – Suasana haru dan kepedulian menyelimuti pesisir Pantai Mbadokai, Desa Fuafuni, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao. Upaya penyelamatan puluhan ikan paus pilot yang terdampar di pantai tersebut menjadi momen kemanusiaan yang menyentuh hati banyak pihak.
Kapolsek Rote Barat Daya, IPDA Subur Gunawan, saat dihubungi media ini melalui pesan WhatsApp pada Rabu, 11 Maret 2026 pukul 08.35 Wita, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut bermula dari laporan warga pada Senin, 9 Maret 2026 sekitar pukul 09.30 Wita. Warga menginformasikan kepada pihak kepolisian bahwa terdapat gerombolan ikan yang diduga lumba-lumba terdampar di perairan Desa Fuafuni dan kemungkinan terjebak pukat nelayan.
Mendapat informasi tersebut, personel Polsek Rote Barat Daya segera bergerak cepat. Menggunakan satu unit kapal, mereka berangkat dari Pelabuhan Batutua pada pukul 09.45 Wita menuju lokasi untuk memastikan kebenaran laporan masyarakat.
Sekitar pukul 10.00 Wita, tim yang dipimpin Kanit SPKT III AIPTU Edwin Seran tiba di lokasi. Setelah dilakukan pengecekan, ternyata gerombolan ikan tersebut bukanlah lumba-lumba, melainkan paus pilot yang terjebak akibat kondisi air laut yang sedang surut.
Melihat kondisi tersebut, personel kepolisian langsung berinisiatif melakukan upaya penyelamatan. Dengan penuh kesabaran, mereka bersama masyarakat berusaha menggiring kawanan paus tersebut kembali ke perairan yang lebih dalam agar dapat kembali ke habitat aslinya di laut lepas.
Namun perjuangan belum berakhir. Pada pukul 21.15 Wita malam harinya, Kapolsek kembali menerima informasi dari warga bahwa sejumlah paus pilot kembali terdampar di pesisir Pantai Mbadokai. Tanpa menunggu lama, sekitar pukul 22.15 Wita Kapolsek bersama anggota segera menuju lokasi kejadian.
Di tengah gelapnya malam, aparat kepolisian bersama masyarakat dan personel dari TNI Angkatan Laut yang bertugas di Pangkalan Angkatan Laut Pulau Rote bekerja bahu-membahu melakukan penyelamatan. Dari upaya tersebut, enam ekor paus pilot yang masih hidup berhasil didorong kembali ke laut dalam, sementara empat ekor lainnya ditemukan telah mati dan dievakuasi ke bibir pantai.
Menjelang tengah malam, tim Ronda Presisi dari Satuan Samapta Polres Rote Ndao yang dipimpin KBO Samapta turut datang untuk memantau situasi serta membantu pengamanan di lokasi.
Keesokan harinya, Selasa 10 Maret 2026 pukul 08.00 Wita, upaya evakuasi kembali dilanjutkan. Personel Polsek Rote Barat Daya bersama anggota TNI AL serta tim dari Taman Nasional Perairan Laut Sawu wilayah kerja Rote Ndao yang dipimpin Respaty Yudha P tiba di lokasi untuk membantu proses penanganan lebih lanjut.
Dengan kerja sama yang solid, tim gabungan berhasil menyelamatkan sekitar 30 ekor paus pilot yang masih hidup dengan menggiringnya kembali ke laut lepas. Sementara paus yang telah mati dievakuasi ke pesisir untuk penanganan lebih lanjut.
Pada pukul 12.20 Wita, satu unit ekskavator milik Pemerintah Kabupaten Rote Ndao tiba di lokasi untuk membantu proses penguburan bangkai paus. Sekitar pukul 12.40 Wita, alat berat tersebut mulai menggali lubang di pesisir Pantai Mbadokai.
Tak lama kemudian, tim dari Dinas Peternakan Kabupaten Rote Ndao yang dipimpin dokter hewan Drh. Mekris Nabunone bersama tujuh anggota lainnya tiba di lokasi untuk mengambil sampel dari bangkai paus guna dilakukan penelitian, guna mengetahui penyebab kematian mamalia laut tersebut.
Secara keseluruhan, sebanyak 20 ekor paus pilot yang telah mati akhirnya dikuburkan di pesisir pantai. Proses evakuasi hingga penguburan berlangsung hingga pukul 18.45 Wita dan berjalan dengan aman serta lancar.
Kapolsek IPDA Subur Gunawan menyampaikan bahwa peristiwa ini menjadi gambaran nyata tentang kepedulian dan kerja sama antara aparat, masyarakat, dan berbagai instansi dalam menjaga kehidupan laut.
“Di tengah deburan ombak Pantai Mbadokai, kisah penyelamatan ini meninggalkan pesan kemanusiaan yang mendalam—bahwa alam dan makhluk hidup di dalamnya adalah tanggung jawab bersama untuk dijaga dan dilindungi,” ujarnya IPDA Subur
*(Rinto)














