• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Kupang Metro
Advertisement
  • Beranda
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Advertorial
  • Opini
  • Profil
  • Seputar NTT
  • More
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Nasional
    • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Advertorial
  • Opini
  • Profil
  • Seputar NTT
  • More
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Nasional
    • Internasional
No Result
View All Result
Kupang Metro
No Result
View All Result
Home Opini

BUKU TULIS YANG MEMBUNUH DAN KEBOHONGAN PENDIDIKAN GRATIS

Admin by Admin
5 Februari 2026
in Opini
0
Aset, Air, dan Kekuasaan: Sengketa PDAM Kupang yang Tak Kunjung Usai
0
SHARES
14
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Leopold Therik
Politisi dan Pemerhati Global

 

Kematian seorang bocah berusia 10 tahun yang diduga mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku tulis adalah tragedi kemanusiaan yang tak boleh diperlakukan sebagai kabar duka biasa. Ia adalah alarm darurat bahkan dakwaan moral atas kegagalan negara menjamin hak paling dasar anak miskin. Ini bukan kisah tentang buku tulis. Ini kisah tentang kebohongan pendidikan gratis dan runtuhnya perlindungan anak di Indonesia.

Mari kita luruskan sejak awal: tidak ada anak yang bunuh diri karena selembar buku tulis. Ia bunuh diri karena rasa malu, tekanan sosial, ketakutan, dan perasaan menjadi beban. Buku tulis hanyalah simbol paling telanjang dari kemiskinan struktural yang dibiarkan hidup oleh kebijakan setengah hati.
Konstitusi tidak pernah ragu. Pasal 31 UUD 1945 menjamin hak pendidikan dan mewajibkan negara membiayai pendidikan dasar. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskannya. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak bahkan lebih tegas: negara wajib menjamin hak hidup, tumbuh, dan berkembang anak. Namun tragedi ini membuktikan satu hal pahit hak anak miskin masih sering berhenti di atas kertas.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan lebih dari 26 juta penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, dan jutaan di antaranya adalah anak-anak usia sekolah. UNICEF mencatat sekitar 20 persen anak Indonesia mengalami deprivasi pendidikan, bukan hanya akses sekolah, tetapi kebutuhan paling dasar seperti alat tulis, seragam, dan lingkungan belajar yang aman secara psikologis.

Ironinya, Indonesia setiap tahun mengalokasikan sekitar 20 persen APBN untuk pendidikan, setara ratusan triliun rupiah. Angka ini kerap dipamerkan sebagai prestasi. Namun pertanyaannya sederhana dan menyakitkan: mengapa di tengah anggaran sebesar itu, seorang anak masih merasa hidupnya tak layak hanya karena tak mampu membeli buku tulis?

Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bernilai triliunan rupiah belum sepenuhnya menjamin pendidikan bebas biaya secara nyata. Di banyak daerah, biaya terselubung masih hidup. Lebih buruk lagi, sekolah sering berubah menjadi ruang tekanan sosial, tempat anak miskin dipertontonkan ketidakmampuannya secara halus maupun terang-terangan.

Masalah ini diperparah oleh absennya sistem perlindungan psikososial di sekolah dasar. Data Kementerian PPA menunjukkan peningkatan gangguan kesehatan mental anak pascapandemi. Namun sekolah-sekolah, terutama di wilayah miskin, nyaris tanpa konselor, tanpa psikolog, tanpa mekanisme deteksi dini. Guru dibebani administrasi, bukan diperlengkapi empati dan dukungan profesional.

Surat perpisahan bocah itu kepada ibunya adalah dokumen paling menyakitkan tentang bagaimana seorang anak memandang dirinya: sebagai beban. Ketika seorang anak sampai pada kesimpulan bahwa mati lebih baik daripada hidup tanpa buku tulis, maka kegagalan itu bukan pada keluarga semata itu kegagalan negara secara kolektif.

Dititik inilah kita harus berani berkata jujur: pendidikan gratis di Indonesia adalah kebohongan parsial. Gratis di pidato, mahal di kenyataan. Negara terlalu sibuk berbicara kurikulum canggih, digitalisasi, dan ranking global, tetapi lupa satu prasyarat utama pendidikan: rasa aman dan martabat anak.

Lebih ironis lagi, di saat anak-anak miskin kesulitan membeli buku tulis, negara justru mendorong kebijakan yang keliru arah. Program makan bergizi (MBG), betapapun terdengar populis, bukan solusi struktural pendidikan. Memberi makan tanpa menjamin pendidikan gratis yang bermartabat hanyalah kebijakan kosmetik. Anak tidak mati karena lapar semata ia mati karena merasa tak punya masa depan.

Maka harus dikatakan dengan tegas dan politis: pendidikan gratis sejati harus menjadi prioritas absolut, bahkan jika itu berarti mengevaluasi, memangkas, atau menghapus kebijakan lain yang menggerus anggaran pendidikan dasar. Negara tidak boleh lebih cepat memberi makan daripada memberi harapan.

Pendidikan gratis sejati berarti negara menanggung penuh biaya pendidikan dasar termasuk buku tulis, seragam, dan perlengkapan sekolah. Sekolah harus menjadi zona aman psikologis, bebas dari stigma kemiskinan. Pemerintah daerah harus dievaluasi bukan dari banyaknya gedung sekolah, tetapi dari seberapa aman sekolah bagi anak miskin.

Tragedi ini bukan kecelakaan. Ia adalah konsekuensi kebijakan yang gagal berpihak. Negara tahu kemiskinan anak, tahu tekanan sosial di sekolah, tahu rapuhnya kesehatan mental anak namun lamban bertindak. Dalam situasi seperti ini, diam adalah bentuk kekerasan.

Jika kematian bocah ini hanya ditutup dengan belasungkawa dan karangan bunga, maka kita sedang membiasakan diri pada duka. Negara yang besar bukan diukur dari besarnya anggaran, tetapi dari cara ia melindungi anak paling rapuh.

Hari ini seorang anak mati karena buku tulis. Jika kebohongan pendidikan gratis terus dipelihara, besok akan ada anak lain mati karena rasa malu. Dan saat itu, kita tak lagi berhak berpura-pura terkejut.

Previous Post

Mengubur Masa Depan di Ujung Pena: Ketika Harapan Menjadi Barang Mewah di NTT

Next Post

SATGAS SABER PANGAN SABU RAIJUA ANTISIPASI KUALITAS DAN HARGA JELANG HARI RAYA

Admin

Admin

Next Post
SATGAS SABER PANGAN SABU RAIJUA ANTISIPASI KUALITAS DAN HARGA JELANG HARI RAYA

SATGAS SABER PANGAN SABU RAIJUA ANTISIPASI KUALITAS DAN HARGA JELANG HARI RAYA

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected test

  • 42.2k Followers
  • 23.9k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gunakan Dana Pribadi Untuk Perbaikan Jalan Rusak, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kupang Beri Apresiasi Kepada Yafet Horo

Gunakan Dana Pribadi Untuk Perbaikan Jalan Rusak, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kupang Beri Apresiasi Kepada Yafet Horo

10 April 2025
Kepala SMPN 8 Kota Kupang Usir Siswa Peserta Ujian Nasional

Kepala SMPN 8 Kota Kupang Usir Siswa Peserta Ujian Nasional

6 Mei 2025
Ini Jenis-Jenis Pelatihan Yang di Buka BLK NTT Tahun 2021

Ini Jenis-Jenis Pelatihan Yang di Buka BLK NTT Tahun 2021

12 Februari 2021
Erwin Ga Masih Ketua PMI Kota Kupang Yang Sah Periode 2024-2029

Pengurus PMI Provinsi NTT Tegaskan Ketua PMI Kota Kupang Yang Sah Adalah Erwin Gah

22 Mei 2025
Ketua Umum DPP PPP romahurmuziy tengah

Strategi PPP Menangkan Duet Ganjar dan Gus Yasin

0
Ketua umum partai garuda ahmad ridha sabana

Ini Dia Hubungan Partai Garuda dengan Gerindra

0
Gubernur dki jakarta anies baswedan

Rawa Terate Rutin Banjir, Anies Bakal Cek Pabrik Sekitar

0
Ketua nu jatim hasan mutawakkil alallah di masjid-al akbar surabaya

NU Minta Pesantren Tak Terprovokasi Teror Orang Gila

0
Wakil Wali Kota Ajak Perempuan Kota Kupang Rajin Deteksi Kanker Serviks

Wakil Wali Kota Ajak Perempuan Kota Kupang Rajin Deteksi Kanker Serviks

12 Agustus 2026
Meriahkan HUT RI Ke 81, PSMTI Kota Kupang Gelar Fun Walk

Meriahkan HUT RI Ke 81, PSMTI Kota Kupang Gelar Fun Walk

12 Agustus 2026
Berawal dari Kios Sederhana, Ansi Kembangkan Usaha Sembako dengan Dukungan KUR BRI

Berawal dari Kios Sederhana, Ansi Kembangkan Usaha Sembako dengan Dukungan KUR BRI

11 Agustus 2026
Sat Pol PP Kota Kupang Tertibkan Sejumlah Kios Di Tepi Ruas Jalan Negara

Sat Pol PP Kota Kupang Tertibkan Sejumlah Kios Di Tepi Ruas Jalan Negara

11 Agustus 2026
Kupang Metro

Dapatkan informasi dan insight pilihan redaksi Kupang Metro - Berita & Informasi Terbaru

Follow Us

Browse by Category

  • Advertorial
  • Budaya
  • Business
  • Daerah
  • Ekbis
  • Food
  • Hukrim
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kota Kupang
  • Lifestyle
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politics
  • Profil
  • Review
  • Sabu Raijua
  • Science
  • Sejarah
  • Seputar NTT
  • Sports
  • Tech
  • Tidak Berkategori

Recent News

Wakil Wali Kota Ajak Perempuan Kota Kupang Rajin Deteksi Kanker Serviks

Wakil Wali Kota Ajak Perempuan Kota Kupang Rajin Deteksi Kanker Serviks

12 Agustus 2026
Meriahkan HUT RI Ke 81, PSMTI Kota Kupang Gelar Fun Walk

Meriahkan HUT RI Ke 81, PSMTI Kota Kupang Gelar Fun Walk

12 Agustus 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 KupangMetro - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Advertorial
  • Opini
  • Profil
  • Seputar NTT
  • More
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Nasional
    • Internasional

© 2025 KupangMetro - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.