SABU ,KUPANGMETRO.COM,4 MEI 2026 – Suasana khidmat menyelimuti Dusun Kajiwoka, Desa Kota Hawu, saat doa-doa kuno melantun lembut memecah keheningan malam Sabu Raijua, Minggu (3/5/2026 Pukul 19:30 Wita ). Di bawah saksi langit yang cerah, dua suku besar, yakni Suku Kekoro dan Suku Teriwu, melebur dalam ritual adat sakral bernama Bui Ihi.
Ritual Bui Ihi merupakan bagian penting dari rangkaian upacara adat Hole yang bertujuan untuk pembersihan diri sekaligus pengikat simpul persaudaraan yang tak terpisahkan. Prosesi dimulai di Mesra (tempat sakral), di mana para tokoh adat berdiri tegak mengenakan pakaian kebesaran yang sarat makna. Mantra syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan leluhur sebagai pengakuan tulus atas napas kehidupan serta kesehatan yang mereka nikmati.
Kepala Suku Kekoro, Markus Dodo, menyampaikan pesan mendalam mengenai tanggung jawab manusia terhadap alam dalam sambutannya.
“Ritual ini adalah janji suci kita kepada semesta. Kesehatan, air yang mengalir, hingga udara yang kita hirup hari ini adalah titipan yang harus kita syukuri bersama. Melalui Bui Ihi, kita titipkan akar budaya ini agar tetap teguh di hati generasi mendatang,” ujarnya dengan penuh penekanan.
Keharmonisan kian terasa saat sesaji dipersembahkan secara simbolis. Doa-doa khusus dipanjatkan untuk kesuburan tanah, kelestarian ternak, hingga kemurnian alam Sabu Raijua. Kepala Suku Teriwu, Charles Lay Day, turut mengingatkan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta yang luas.
Markus Dodo kembali menegaskan pentingnya persatuan antar suku di wilayah tersebut. “Syukur ini bukan hanya milik kita, tapi milik tanah yang kita pijak. Hari ini kita berdiri sebagai satu keluarga besar. Biarlah persaudaraan Kekoro dan Teriwu menjadi legenda hidup bagi anak cucu kita nanti,” tegasnya.
Kegiatan adat yang berlokasi di RT 01/RW 01 Dusun Kajiwoka, Desa Kota Hawu, Kecamatan Sabu Liae kabupaten Sabu Raijua Provinsi Nusa tenggara Timur (NTT) Acara Bui Ihi ini di tutup dengan kemeriahan tarian tradisional berupa tarian Ledo dan Pedoa, yang merupakan simbol persatuan dan rasa syukur masyarakat Sabu. Acara diakhiri dan Di tutup Pada pukul 21:51 Wita dengan makan malam bersama sebagai wujud nyata persaudaraan yang kokoh.
*(Rinto)















