Kupangmetro – Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Rissa Delong mengajak masyarakat Kota Kupang untuk lebih peduli terhadap kesehatan jantung dengan mengenali faktor risiko serta mewaspadai gangguan irama jantung sejak dini.
Ajakan tersebut disampaikan dalam edukasi kesehatan pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) PINTI Kota Kupang yang berlangsung di Alun-Alun Kota Kupang, Sabtu (17/10/2026).
Dalam edukasinya, dr. Rissa menjelaskan bahwa penyakit jantung dan pembuluh darah dapat berkembang tanpa disadari, terutama apabila seseorang tidak rutin memeriksakan kondisi kesehatannya.
Karena itu, pemahaman mengenai tanda-tanda awal gangguan jantung menjadi penting agar masyarakat dapat segera mencari pertolongan medis.
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat adalah memeriksa denyut nadi secara mandiri. Pemeriksaan ini dapat membantu seseorang mengenali frekuensi dan keteraturan denyut jantung, meskipun tidak dapat menggantikan pemeriksaan medis.
Dr. Rissa menjelaskan, denyut nadi pada pergelangan tangan dapat diperiksa menggunakan tiga jari, yakni telunjuk, jari tengah, dan jari manis, yang diletakkan pada sisi pergelangan tangan di pangkal ibu jari. Ibu jari sebaiknya tidak digunakan karena memiliki denyut nadinya sendiri.
Untuk memperkirakan frekuensi denyut nadi per menit, masyarakat dapat menghitung denyut selama 30 detik lalu mengalikan hasilnya dengan dua. Selain jumlah denyutan, keteraturan irama juga perlu diperhatikan.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan perubahan irama denyut jantung, terutama jika terasa tidak teratur, seperti ada jeda, atau berbeda dari biasanya.
“Kalau Bapak dan Mama merasakan denyut jantung tiba-tiba tidak teratur, ada jeda, atau terasa berbeda dari biasanya, jangan diabaikan. Segera periksakan diri ke dokter atau puskesmas,” pesannya.
Menurut dr. Rissa, denyut jantung yang tidak teratur dapat menjadi salah satu tanda gangguan irama jantung atau aritmia.
Salah satu jenis gangguan tersebut adalah fibrilasi atrium, yaitu kondisi ketika ruang atas jantung berdetak secara tidak teratur.
Fibrilasi atrium perlu mendapatkan perhatian karena dapat meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah yang berpotensi menyebabkan stroke.
Namun, denyut nadi yang tidak teratur tidak selalu berarti seseorang mengalami fibrilasi atrium sehingga pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga medis tetap diperlukan.
Pemeriksaan seperti elektrokardiogram (EKG) dapat membantu dokter menilai aktivitas listrik jantung dan memastikan jenis gangguan irama yang dialami pasien.
Selain mengenali perubahan denyut nadi, dr. Rissa menekankan pentingnya mengendalikan berbagai faktor risiko penyakit jantung, termasuk tekanan darah tinggi, kelebihan berat badan, dan kebiasaan merokok.
Ia mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, melakukan aktivitas fisik secara teratur, menjaga berat badan, serta memeriksa tekanan darah dan kondisi kesehatan secara berkala.
“Jangan menunggu sampai terjadi stroke atau serangan jantung baru datang memeriksakan diri. Semakin cepat diketahui, semakin cepat pula kita bisa mendapatkan penanganan yang sesuai,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Rissa juga mengajak warga Kota Kupang memanfaatkan kegiatan senam jantung sehat yang diselenggarakan Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kegiatan ini tidak hanya mendorong masyarakat untuk aktif bergerak, tetapi juga menjadi sarana memperoleh edukasi kesehatan secara langsung dari tenaga medis.
Melalui edukasi dalam perayaan HUT PINTI Kota Kupang, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan jantung, mengenali gejala yang perlu diwaspadai, dan melakukan pemeriksaan sedini mungkin.
Kepedulian terhadap kesehatan jantung perlu dimulai dari kebiasaan sederhana dan dilanjutkan dengan pemeriksaan berkala.
Dengan mengenali faktor risiko serta segera berkonsultasi ketika muncul keluhan, masyarakat dapat mengambil langkah yang lebih baik untuk menjaga kesehatan jantung dan mengurangi risiko komplikasi serius.
(Andi Ilham Sulabessy)













