Kupangmetro —– Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan indikator utama derajat kesehatan masyarakat. AKI dipengaruhi oleh status gizi ibu, kondisi kesehatan sebelum kehamilan, faktor sosial-ekonomi, komplikasi kehamilan dan persalinan, serta ketersediaan dan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan termasuk pelayanan prenatal dan obstetri.
“Tingginya AKI mencerminkan risiko kesehatan ibu yang masih tinggi, keterbatasan layanan kesehatan, dan kondisi sosial ekonomi yang rendah,” jelas Kadis Kesehatan Kota Kupang, dr. Retnowati di Kupang.
Untuk menekan tingginya AKI di Kota Kupang, Pemerintah Kota Kupang terus berupaya menurunkan AKI melalui peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil dan persalinan, pemantauan kehamilan, penyediaan tenaga kesehatan professional serta pembangunan sarana-prasarana kesehatan yang memadai.
“Selain itu ada program promotif dan preventif yang menyasar pada ibu hamil dan keluarga,” kata dr. Retno.
Upaya ini katanya dilakukan untuk menekan risiko kematian ibu serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, dan memastikan pemerataan layanan kesehatan di seluruh wilayah Kota Kupang.
Data Dinas Kesehatan Kota Kupang menyebutkan Perkembangan Angka Kematian Ibu di Kota Kupang selama periode 2021-2025 menunjukkan fluktuasi yang cukup tajam dan memerlukan perhatian serius.
AKI meningkat dari 104 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2021 menjadi 115 pada tahun 2022, kemudian menurun signifikan pada tahun 2023 dan 2024 hingga mencapai 50, sebelum kembali melonjak tajam pada tahun 2025 menjadi 236 per 100.000 kelahiran hidup.
“Kenaikan signifikan pada tahun 2025 dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah kematian ibu melahirkan serta penurunan jumlah kelahiran hidup,” tutupnya.
(Andi Sulabessy)













