Kupangmetro — Salah satu bakal calon Bupati Sumba Barat Daya (SBD) periode 2024-2029, Gustaf Tamo Mbapa menyatakan keinginannya untuk maju pada pemilihan Kepala Daerah pada 27 November 2024 mendatang di Kabupaten SBD karena didorong keinginannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat SBD.
“Saya siap memberikan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat SBD”, ungkap Gustaf dalam sebuah wawancara dengan dengan Lapiero TV pada Minggu 26 Mei 2024.
Dalam wawancara yang dipandu Emanuel Dapaloka, Gustaf menjelaskan diusia yang baru 17 tahun sejak dimekarkan dari kabupaten induk Sumba Barat, sampai saat ini kabuoaten SBD sudah mempunyai Tiga orang Bupati, yakni pertama Emanuel Babu Eha yang ditunjuk sebagai Pejabat Bupati Pertama.
Sebagi pejabat Bupati SBD yang ditunjuk, Emanuel Babu Eha telah meletakan dasar-dasar pembangunan di kabupaten SBD. Kemudian Bupati definitif Partama yakni Kornelis Kodi Mete dan Bupati Kedua adalah Markus Dairo Talu dan Bupati SBD Ketiga inilah yang saat ini sedang dalam proses.
“Bila Tuhan berkenan dan masyarakat mendukung, saya siap menjadi bupati Ketiga SBD”, ungkap alumni SMA Katolik Andaluri Sumba Barat Daya ini.
Bagi Gustaf, tekadnya tentunya beralasan karena sebagai seorang yang terjun dalam dunia politik, Gustaf juga aktif diberbagai organisasi sosial sehingga paham benar tentang politik dan masyarakat. “Apa yang menjadi kebutuhan masyarakat saya sangat paham karena sebagai pemerintah perlu kecepatan dan akselerasi untuk pembangunan masyarakat”, kata Gustaf.
Keinginan yang kuat untuk menjadi Bupati SBD kata alumni SMPK Wonakaka Homba Karipit Kodi ini karena berdasarkan pengalamannya ketika berkunjung ke kampung Ikit yang terletak di Kecamatan Kodi Utara, dirinya menemukan gambaran kemiskinan yang masih dialami masyarakat SBD.
Bagaimana tidak, di kampung yang dikunjunginya belum ada penerangan listrik sehingga anak-anak belajar harus memakai lampu pelita sebagai penerangan, kemudian akses jalan yang sangat buruk, terutama akses jalan menuju kebun warga serta yang paling memprihatinkan adalah air bersih yang sangat sulit didapati sehingga rumah-rumah masyarakat di kampung tersebut rata-rata tidak memiliki jamban/toilet.
“Ini adalah gambaran masyarakat yang kurang dilayani. Kemana pemimpin-pemimpin SBD sebelumnya. Oleh karena itu saya bertekad untuk maju sebagai bupati. SBD harus keluar dari kemiskinan”, tegasnya.
Walaupun selama ini dirinya beraktifitas di Ibukota Negara, namun hati dan perasaannya tetap berada di SBD tempat kelahirannya. “Sebagai aktifis dan politisi saya akan membuka komunikasi dengan semua jaringan yang saya punya”, ungkap Gustaf.
Untuk itu niatnya maju dan bertarung dalam pemilihan bupati SBD tidak lain karena didorong oleh rasa keprihatinannya serta adanya komitmen moral dari hatinya yang ingin membebaskan masyarakat SBD dari kemiskinan. (***/andi)














