Kupangmetro — Jelang Hari Raya Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, harga beras Bulog di pasar dipastikan stabil karena Perum Bulog Wilayah Nusa Tenggara Timur menjamin ketersediaan stok.
“Masyarakat tidak usah khawatir akan terjadinya kekurangan beras yang akan memicu kenaikan harga karena saat ini stok beras yang tersimpan masih cukup yakni sampai Empat Bulan kedepan,” jelas Kepala Perum Bulog Kanwil NTT, Arrahim Kanam kepada media, Selasa (9/12/2025) di Kupang.
Untuk itu dalam menjaga ketersediaan dan kestabilitan harga beras ditengah masyarakat, pihak Bulog terus mendorong percepatan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Berdasarkan data Penyaluran SPHP yang sudah terealisasi sebanyak 29.270 Ton yang dilakukan melalui jaringan pasar tradisional, ritel modern, Koperasi Desa Merah Putih, distributor resmi, dan berbagai kanal penjualan yang bekerja sama dengan Bulog, termasuk percepatan penyelesaian Bantuan Pangan (Banpang).
Kepala Perum Bulog Kanwil NTT, Arrahim Kanam yang didamping Wakil Pimpinan Perum Bulog NTT Ramaijon Purba juga meminta kepada masyarakat agar tidak perlu khawatir akan kenaikan harga beras apalagi menjelang Hari Raya Nataru karena harga beras SPHP diatur oleh pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Penetapan harga oleh Pemerintah jelas Kanam bertujuan untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan dengan Bulog sebagai pelaksana di lapangan untuk memastikan harga jual ke konsumen tetap terjangkau.
“Bulog juga telah menyiapkan berbagai langkah stabilisasi harga sebagai bagian dari pengendalian pasokan pangan di wilayah NTT, salah satunya dengan Kegiatan Gerakan Pangan Murah,” jelas Arrahim Kanam.
Harapannya dengan menyalurkan Bantuan Pangan serta menggelontorkan Beras SPHP dan melaksanakan kegiatan GPM secara masiv Bulog berharap dapat membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
Secara Nasional stok beras yang ada dan yang dikelola pemerintah masih aman yakni sebanyak 3,8 juta ton sehingga warga tidak perlu khawatir. “Khusus di NTT, stok beras yang ada di Gudang milik Bulog dalam kondisi aman dan dipastikan terjamin dalam pendistribusiannya,” jelasnya.

PBP Bertambah
Sementara itu untuk bantuan pangan periode Oktober – November 2025, Bulog mendapat tambahan pagu sebanyak 653.746 Penerima Bantuan Pangan (PBP). Jumlah itu mengalami peningkatan jika dibanding pada periode Juni – Juli yang dialokasikan kepada PBP sebanyak 605.291.
Penambahan pagu PBP pada periode Oktober – November tersebut tidak saja hanya sebatas beras sebanyak 10 Kg kepada penerima bantuan, tetapi juga diiringi dengan adanya penambahan komoditi lainnya berupa Minyak Goreng sebanyak 2 liter.
“Bila periode Juni – Juli PBP menerima bantuan hanya berupa beras sebanyak 10 Kg. Namun pada periode Oktober – November tidak hanya beras sebanyak 10 Kg tetapi juga ditambah minyak goreng sebanyak 2 liter,” ungkap Arrahim.
Komitmen Bulog NTT
Kepala Perum Bulog Kanwil NTT, Arrahim Kanam menegaskan, Perum Bulog Kantor Wilayah NTT sampai saat ini masih tetap komitmen dalam hal penyerapan gabah beras maupun jagung dari tingkat petani.
Arrahim Kanam menyebut, untuk realisasi penyerapan setara beras saat ini sudah mencapai 6.025 ton. “Angka yang cukup besar untuk Provinsi NTT mengingat Provinsi NTT bukan daerah sentra produksi. Sedangkan untuk penyerapan jagung sudah mencapai 334 ton,” jelas Kanam.
Selain itu, untuk menjaga penyerapan beras dan jagung dari tingkat petani, Perum Bulog NTT juga menjalin komunikasi dan memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Daerah, Satgas Pangan, serta berbagai pemangku kepentingan lain.
‘Kolaborasi ini diperlukan agar pengawasan di lapangan berjalan optimal, khususnya untuk mencegah spekulasi harga dan penimbunan yang berpotensi merugikan masyarakat,” katanya.
Menurutnya, dengan kesiapan stok dan sistem distribusi yang terjaga, masyarakat tidak perlu khawatir karena Bulog berkomitmen penuh untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan beras bagi seluruh rakyat Indonesia khususnya masyarakat NTT.
Selain menjaga pasokan beras, Bulog NTT juga menyiapkan langkah penguatan cadangan untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem atau gangguan logistik pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026.
“Upaya ini menjadi rangkaian strategi Bulog dalam memastikan ketahanan pangan di NTT tetap stabil,” tegas Arrahim Kanam.
(Andi Ilham Sulabessy)















