Kupangmetro – Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, dr. Retnowati mengatakan, prevalensi stunting di Kota Kupang selama periode 2021-2025 menunjukkan tren penurunan secara agregat, dari 26,1 persen pada tahun 2021 menjadi 16,8 persen pada tahun 2025, meskipun sempat mengalami peningkatan pada tahun 2024.
“Penurunan ini mencerminkan dampak positif dari berbagai intervensi percepatan penurunan stunting, namun ketimpangan antar wilayah masih terlihat jelas,” kata dr. Retno di Kupang.
Untuk Kota Kupang terdapat Dua Kecamatan yang angka stuntingnya tinggi, yakni Kecamatan Maulafa dan Kelapa Lima, dimana secara konsisten Kedua Kecamatan tersebut mencatat prevalensi stuntingnya tertinggi. Sementara itu Kecamatan Kota Lama dan Kota Raja menunjukkan penurunan yang lebih signifikan hingga berada di bawah rata-rata kota pada tahun 2025.
Kondisi ini menegaskan perlunya penguatan intervensi spesifik dan sensitif yang lebih terarah berbasis wilayah, khususnya pada kecamatan dengan prevalensi tinggi, melalui peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak, perbaikan gizi balita, sanitasi lingkungan, serta integrasi program lintas sektor untuk memastikan penurunan stunting yang berkelanjutan dan merata di Kota Kupang.
Menurut dr.Retno, perubahan itu mencerminkan efektivitas program pemerintah dalam penanganan stunting melalui pemenuhan gizi ibu dan balita, edukasi pola asuh dan pemberian makan yang tepat, pemantauan pertumbuhan anak, serta peningkatan akses layanan kesehatan.
“Upaya ini menjadi dasar perencanaan dan evaluasi kebijakan kesehatan, dengan tujuan menurunkan prevalensi stunting, meningkatkan kualitas pertumbuhan dan seluruh balita memperoleh gizi yang cukup, mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal, serta meningkatkan kualitas generasi masa depan,”jelasnya.
(Andi Sulabessy)













