Sabu Raijua – kupangmetro.com – Suasana penuh haru, penghormatan, dan kebanggaan menyelimuti Kampung Adat Suku Kekoro, Desa Raeloro, Kecamatan Sabu Barat, Senin (20/7/2026) pukul 11.25 WITA. Kepala Suku Kekoro Markus Dodo bersama para Mone Ama Kekoro dan segenap warga menyambut hangat tim peneliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.
Penyambutan diawali upacara adat khidmat dengan gerak dan alunan yang menyimpan pesan turun-temurun. Sebagai penghormatan tertinggi, seluruh anggota tim peneliti dipasangkan selendang adat sebelum dipersilakan masuk ke rumah adat Ammu Benni Dangnga. Di sana, tarian khas Ledo dibawakan oleh Anak Sangar Lihika dengan penuh penghayatan. Momen berharga ini turut disaksikan tokoh adat Suku Teriwu, Suku Kokorae, warga setempat, serta rombongan akademisi.
Tim peneliti dipimpin langsung Dr. Wiwik Novianti, S.Sos., M.I.Kom, beranggotakan Desmiwati, S.Sos., M.E; Dr. Agoeng Noegroho, M.Si; Dr. apt. Eka Prasasti Nur Rachmani, M.Si; Apt. Nur Amalia Choironi, M.Si; dan Maria V.D. Pabha Swan, S.Sos., M.Med.Kom. Kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan, melainkan untuk melaksanakan penelitian berjudul “Pengobatan Berbasis Kearifan Lokal pada Masyarakat Pulau Sabu Nusa Tenggara Timur” yang akan berlangsung hingga 3 Agustus 2026.
Dalam sambutannya, Kepala Suku Kekoro Markus Dodo menyampaikan rasa syukur mendalam. “Kami segenap masyarakat adat sangat berterima kasih atas kehadiran Bapak dan Ibu sekalian. Semoga penelitian ini dapat melestarikan serta memperkenalkan kekayaan kearifan leluhur kami ke kancah yang lebih luas, dan membawa manfaat bagi kita semua,” ujarnya.
Bagi warga Sabu Raijua, perhatian serius dari dunia akademik menjadi kebanggaan tersendiri. Hal ini menegaskan bahwa nilai-nilai yang dijaga turun-temurun bukan sekadar milik masa lalu, melainkan harta berharga yang bermanfaat bagi masa depan bersama.
*(RINTO)













