Kupangmetro — Meskipun angka kematian ibu di Indonesia menurut Long Form Sensus (LF sensus) 2020 telah menunjukkan angka yang menggembirakan dimana 189 kematian per 100.000 kelahiran hidup, dan angka kematian neonatus menurut sensus 2020 adalah 9,3 per 1.000 kelahiran, namun masih terdapat ruang untuk perbaikan yaitu menurunkan kematian ibu dan neonatus yang dapat dicegah (preventable death).
“Ini sejalan dengan fokus WHO melalui EPMM dan ENAP, yang menunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Kota Kupang masih perlu memperkuat upaya untuk mencapai target penurunan kematian maternal dan neonatal,”ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, drg. Retnowati di Kupang.
Oleh karena itu kata Kadis Kesehatan, diperlukan strategi yang tepat untuk mencapai target tersebut melalui pendekatan kerangka kerja pelayanan yang bermutu menurut WHO. “Pendekatan kerangka kerja ini mencakup delapan domain mutu pelayanan dalam konteks sistem kesehatan,” kaanya.
Kerangka tersebut jelasnya akan memberikan struktur untuk menilai, meningkatkan, dan memantau mutu pelayanan maternal dan neonatal secara berkelanjutan di seluruh tingkatan layanan, sehingga memperbesar peluang tercapainya hasil yang diharapkan bagi ibu dan bayi baru lahir.
Untuk itu, dalam upaya akselerasi peningkatan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, Program RISE (Reaching, Impact, Epidemic Control) terus mendukung pemerintah Indonesia untuk melakukan implementasi Peningkatan mutu Kolaboratif (Collaborative Quality Improvement/Collaborative QI).
Collaborative Qi adalah sebuah upaya kolaborasi yang melibatkan sekelompok pemangku kepentingan kesehatan yang bekerja menuju tujuan bersama untuk meningkatkan kinerja pada ukuran atau serangkaian ukuran kualitas yang terdefinisi dengan baik.
Menurut dr.Retno, pendekatan tersebut memberikan beberapa manfaat, dimana komponen kolaborasi akan mendukung terjadinya peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap profesional kesehatan; kerja tim; kepemimpinan bersama dan kebiasaan untuk perbaikan, didalam sebuah jejaring pembelajaran (learning network).
Selan itu pendekatan tersebut juga melibatkan beragam intervensi yang melibatkan grup profesi, stakeholder terkait serta fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengakselerasi hasil yang lebih baik dari isu yang umum (common gaps) dalam kesehatan ibu dan bayi baru lahir.
“Dalam implementasinya, setiap kabupaten kota atau faskes menghadapi tantangan yang beragam namun juga menghasilkan berbagai praktik baik yang dapat direplikasi di faskes atau wilayah lain,” jelasnya.
Oleh karena itu, diperlukan sebuah forum pembelajaran tingkat Kabupaten/Kota yang dapat mempertemukan fasilitas pelayanan kesehatan untuk saling bertukar pengalaman dan praktik baik, mendiskusikan. hambatan implementasi, mengidentifikasi solusi inovatif, dan merumuskan langkah strategis bersama untuk mempercepat penurunan morbiditas dan mortalitas maternal dan neonatal.
Melalui Learning Session, diharapkan terbentuk ekosistem pembelajaran di level kab/kota yang mampu memperkuat koordinasi lintas level, mempercepat adopsi praktik baik, dan mendorong konsistensi implementasi perbaikan mutu maternal dan neonatal.
Sedangkan tujuan yang ingi dicapai yakni meningkatkan pelayanan mutu (Quality Improvement/QI) di fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Kupang dalam rangka percepatan penurunan morbiditas dan mortalitas maternal dan neonatal melalui berbagi pembelajaran praktik baik dari program inovasi QI.
Sementara tujuan khusus yakni menyampaikan gambaran umum konsep QI dan Model for Improvement kepada fasilitas kesehatan non Qi dalam upaya peningkatan dan perbaikan kualitas layanan, menyampaikan inovasi faskes dalam upaya menekan kejadian dan kematian yang disebabkan oleh PE/E, HPP dan Asfiksia, serta merumuskan rencana tindak lanjut di daerah, mencakup langkah impementasi penerapan BOC dan Alur Rujukan Terintegrasi di tingkat fasilitas kesehatan
Adapun hasil atau output yang diinginkan adalah Puskesmas dan Rumah Sakit di Kota Kupang mendapatkan informasi dan pembelajaran praktik baik tentang Penanganan Preeklampsia dan Eklampsia (PEE) dan Alur Pemantauan Terintegrasi, tersusunnya rencana tindak lanjut (RTL) masing-masing fasilitas kesehatan, serta meningkatnya kolaborasi dalam jejaring pembelajaran Kesehatan Matneo Kota Kupang (Maternal and Neonatal Health Learning Network) untuk mendukung percepatan penurunan morbiditas dan mortalitas maternal dan neonatal melalui pendekatan perbaikan mutu berkelanjutan.
(Andi Ilham Sulabessy)













