Kupangmetro — Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator utama derajat kesehatan masyarakat yang mencerminkan kualitas layanan kesehatan ibu dan bayi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, dr. Retnowati menjelaskan, AKB dihitung sebagai jumlah kematian bayi usia 0-11 bulan per 1.000 kelahiran hidup dan sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ibu selama kehamilan dan persalinan.
“Termasuk didalamnya akses persalinan oleh tenaga kesehatan, pemeriksaan kehamilan, status gizi ibu, serta risiko neonatal seperti infeksi, prematuritas, dan kelainan bawaan,” jelas Retnowati di Kupang belum lama ini.
Data AKB di Kota Kupang selama beberapa tahun terakhir menunjukkan fluktuasi yang menandakan perlunya perhatian lebih pada kesehatan ibu dan bayi. Pemerintah Kota Kupang sampai saat ini terus melakukan upaya penurunan AKB melalui peningkatan kualitas dan pemerataan layanan kesehatan ibu hamil dan bayi.
“Upaya yang dilakukan melalui program promotif dan preventif, serta pemenuhan gizi ibu dan anak,” tambahnya.
Langkah-langkah ini katanya menjadi dasar perencanaan, evaluasi, dan pengambilan kebijakan kesehatan yang lebih tepat sasaran untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kota Kupang.
Data Dinas Kesehatan menyebutkan, perkembangan Angka Kematian Bayi di Kota Kupang selama periode 2021-2025 menunjukkan fluktuasi sehingga perlu mendapat perhatian serius.
AKB tercatat meningkat dari 2,85 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2021 menjadi 7,16 pada tahun 2022, kemudian menurun pada tahun 2023 dan 2024, sebelum kembali meningkat menjadi 7,6 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2025.
“Fluktuasi ini dipengaruhi oleh perubahan jumlah kematian bayi dan jumlah kelahiran hidup setiap tahunnya. Ini mencerminkan masih adanya tantangan dalam layanan kesehatan ibu dan bayi,” jelasnya.
Secara keseluruhan, kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan upaya promotif dan preventif, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, serta deteksi dini risiko kehamilan dan persalinan, guna menekan AKB secara berkelanjutan di Kota Kupang.
(Andi Sulabessy)













